Living Memoir

I am nothing else but that which I make of myself.

Scrabble dan Gelang-gelang Cantik

Jumat, 12 Oktober 2013

Selepas tengah hari, saya dan beberapa relawan—yang selanjutnya disebut dengan Cikgu Muda—kembali bertandang ke Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) yang kantornya terletak di Cikini, Jakarta Pusat. Mengapa saya dan para relawan datang ke kantor YLBHI? Jadi begini ceritanya…

Read the rest of this entry »

Advertisements

Mason Jar?

Aku tahu aku pernah menyimpannya

Di suatu tempat dalam kepala

Membentangkannya jadi uraian memanjang

yang terjalin satu sama lain

Seperti layaknya dalam badan kaset,

ialah pita yang merekam cerita kita

Aku tahu aku pernah menyimpannya

Tapi tak kutemukan juga

meski kucari ke sini dan ke sana

“Mungkin ia memang tak pernah benar-benar tersimpan di dalamnya”

Bisa jadi. Aku pun sadar aku kurang pandai menatanya

Sehingga bisa saja ia tercecer keluar kepala

“Atau mungkin belum dicari di tempat yang tepat”

Bisa jadi. Terlebih gelapnya kepala terlampau pekat

Sehingga tanpa disadari, terdapat bagian-bagian yang terlewat

Namun, sekarang aku ingin beristirahat

sebelum mencari ulang dengan lebih cermat

Aku memimpikan

sebuah wadah yang teramat kedap

Tempat menyimpan kenang-kenangan agar tak serta-merta menguap

dan tak jatuh berceceran lalu hilang tanpa jejak

Badannya dari kaca bening

Tak terlalu besar hingga dapat selalu kujinjing

Bisa kututup dan kubuka kapanpun aku suka

Isinya pun tampak jelas oleh mata

hingga aku tahu yang mana ada di mana lalu dengan mudah kuraih isinya

Aku memimpikan

sebuah wadah untuk cerita kita

Orang Tua-Orang Tua

Kamis, 26 September 2013

Saya dan beberapa teman berencana untuk mengunjungi Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI) yang berada di Jakarta Pusat. Agenda kami pada hari itu adalah untuk melakukan asesmen kebutuhan komunitas, salah satu tahap dalam merancang program intervensi komunitas–yang menjadi tugas besar dalam mata kuliah Psikologi Klinis dan Kesehatan yang kami ikuti semester ini. Dan komunitas yang kami sasar adalah komunitas anak penderita kanker dan orang tuanya.

Kami berkumpul di kampus lalu berangkat dari Stasiun UI selepas pukul sebelas. Membelah Ibu kota dengan berbagai moda transportasi di bawah teriknya matahari siang itu.  Kami tak langsung menuju ke lokasi YKAKI dengan rute terdekat dan tersingkat, tetapi justru menambah jarak tempuh dan durasi perjalanan untuk mengeksplor wilayah yang kami datangi dan berinteraksi dengan orang-orang yang kami temui–atau singkatnya, kami sempat tersesat. Namun hal tersebut tak menjadi masalah yang berarti, toh pada akhirnya kami berhasil sampai di lokasi tujuan dengan selamat dan mendapatkan sambutan hangat dari pengurus YKAKI dan kakak relawan.

Sambutan singkat-hangat dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dengan pengurus. Ada banyak sekali hal menarik yang kami ketahui dari perbincangan tersebut. Kami juga dibawa berkeliling di dalam rumah singgah yang merangkap kantor yayasan. Kebetulan sedang diadakan acara kepedulian oleh sebuah perusahaan, sehingga kami bisa melihat anak-anak berkumpul di ruang depan sambil ditemani orang tuanya yang mengawasi sisi lain ruangan.

IMG-20130929-WA0011Anak-anak bermain dengan pengajar sambil menunggu acara dimulai

Kami yang memutuskan untuk melihat acara itu pun ikut menunggu. Saya duduk di sebuah sofa sambil mengamati sekeliling. Sesuai dengan pemaparan dari pengurus, anak-anak di sana relatif ceria. Saat mengalihkan pandangan ke arah orang tua-orang tua yang berada di sisi kanan ruangan, ingatan tentang judul jurnal-jurnal penelitian dan pemaparan pengurus barusan mengambang ke permukaan. Beberapa jurnal penelitian yang kutemui memberi perhatian khusus pada kondisi psikologis pada orang tua dari anak penderita kanker. Dan berdasarkan pemaparan dari pengurus, orang tua anak penderita kankerlah yang justru lebih tertekan secara psikologis dibanding anaknya. Siang itu, aku melihat gurat senyum bahagia pada wajah orang tua di sana saat melihat anak-anaknya bermain dan bercanda dengan ceria. Tapi ada hal berbeda yang aku tangkap dari ekspresi mereka, sesuatu yang tertahan. Yang membuat senyum mereka tak benar-benar dilepaskan. Kekhawatiran? Kesedihan? Entahlah. Tapi dengan kondisi seperti itu pun, jelas terlihat ekspresi rasa sayang terpancar dari wajah mereka meski tampak lelah.

IMG-20130929-WA0015Ibu dan anak

Sabtu, 29 September 2013

Saya kembali menonton film Virgin Suicide untuk menganalisis gejala psikologis abnormal pada tokoh-tokoh dalam film tersebut. Ya, hal ini juga terkait dengan tugas kuliah, tepatnya mata kuliah Psikologi Abnormal. Film tersebut menceritakan tentang lima remaja bersaudari dari keluarga Lisbon yang memutuskan untuk bunuh diri sebab tak sanggup menghadapi kekangan ibunya. Ibunya yang merupakan penganut agama yang kuat mendidik anak-anaknya dengan keras dan sangat membatasi kebebasan mereka. Walaupun usaha Ny. Lisbon tidak berakhir baik, hal itu tak bisa dilepaskan dari niat baiknya untuk ‘menjaga’ anak-anaknya.

***

Mungkin seperti itulah orang tua secara umum: selalu ingin memberikan yang terbaik–menurutnya–untuk anak-anaknya. Namun tentu saja keinginan dan niat baik tak selalu dapat diwujudkan dalam usaha yang baik dan benar. Oleh karenanya, menurutku tak ada salahnya untuk melonggarkan keinginan pribadi kita untuk memberikan yang ‘terbaik’ bagi anak-anak kita dan memberikan kepercayaan dan kebebasan hingga derajat tertentu. Ya, meskipun aku perlu terus belajar agar dapat menjadi orang tua yang baik, paling tidak itulah yang terpikirkan olehku saat ini. Dan saya masih berusaha untuk tetap percaya bahwa hal yang bertujuan baik pasti dapat dicapai dengan cara yang baik.

*Foto-foto dalam tulisan ini diambil oleh seorang teman yang begitu antusias saat berinteraksi dengan anak penderita kanker, Clara Sovia Lestari

DSCN5297x

Gunung Gede-PangrangoGunung Salak Selama pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (K2N) Tematik UI (28 Juni-28 Juli 2013) di Kampung Sukatani, RT 06 RW 04, Desa Tugu Utara, Cisarua, Bogor, pemandangan seperti inilah yang menyambut kami di setiap pagi. Selain itu udara yang bergradasi dari sejuk hingga dingin menusuk tak ketinggalan datang menyapa kami, baik lewat gerakan yang […]

Melawan Dingin

Tak jarang saya menemui udara dingin.

Beragam dingin pula yang telah bertemu dengan kulitku lalu saling menyapa.

Mulai dari dingin yang menyejukkan dan dinantikan setelah terpapar terik matahari yang menghanguskan, hingga dingin menyumsum yang memicu reaksi tubuh dalam suatu kontinum.

Bulu kuduk berdiri. Rahang bawah bergemeretak. Merinding.

Udara yang terlalu dingin memang tidak begitu menyenangkan. Jari-jarimu bisa jadi kaku seakan ikut membeku. Lalu kerja organ-organmu bisa jadi ikut tak menentu. Benar-benar menggangu.

Aku cukup sering mengamati orang-orang yang menemui udara dingin semacam itu dan bagaimana mereka menghadapinya.

Pada umumnya, mereka menambah lapisan jaket. Memperkuat lilitan syal atau kain tenun. Meringkukkan tubuh dalam kantung tidur. Menghisap asap rokok.

Mereka terlalu bergantung pada hal-hal di luar diri mereka, menurutku.

Padahal tubuh mereka sudah dilengkapi mekanisme purba–tapi cukup adaptif terhadap perubahan zaman–dalam menghadapi udara dingin: menggetarkan otot, sehingga sirkulasi darah bertambah cepat dan tubuh akan menghangat.

Lalu bagaimana cara mengaktifkan mekanisme itu?

Bergerak! Bergerak! Bergerak lebih banyak!

Bukan hal yang sulit.

Tapi mereka terlalu malas, ragu, atau takut untuk bergerak.

Atau… tak tahan dengan tatapan orang lain yang menganggap bahwa gerakan melawan dingin adalah hal konyol. Yang jika aku berprasangka buruk, maka orang lain itu seakan berkata, “Kenapa tidak menggunakan perlengkapan yang berkualitas lebih tinggi untuk menahan dingin? Daripada melakukan hal konyol seperti itu”.

Lalu mereka lebih memilih untuk meringkuk dalam kantung tidur atau menghisap asap rokok penghangat mereka.

Aku tidak bilang bahwa hal itu salah, hanya saja, aku ingin memberi tahu bahwa kita bisa melakukan lebih banyak hal sambil melawan dingin dengan bergerak, dibandingkan saat melawan dingin dengan meringkuk di dalam kantung tidur.

Bukanlah hal terlarang untuk menggunakan peralatan pendukung di luar diri, namun jangan lupa bahwa kita memiliki sumber daya luar biasa yang terberi.

Chelonia Mydas

IMG_8762Tukik yang akan meninggalkan pantai Ujung Genteng menuju lautan luas, Sabtu, 5 Januari 2013

(gambar di atas diambil oleh Hana Maryana)

Penyu hijau adalah salah satu dari sekian banyak jenis spesies makhluk hidup yang saya kagumi dan—tanpa alasan khusus saya—sayangi. Mereka yang juga disebut sebagai Chelonia mydas ini masuk dalam nominasi pejuang terhebat versi saya.

Perjuangan panjang mereka bahkan dimulai dari detik pertama mereka bersentuhan langsung dengan dunia luar: ketika mereka memecahkan cangkang telurnya masing-masing dan menyeruak keluar. Saat mereka masih berstatus sebagai tukik kecil, mereka kembali berusaha untuk menyeruak. Melewati saudara-saudara mereka, baik yang masih di dalam telur maupun yang sudah keluar serta potongan-potongan cangkang telur yang saling berhimpitan dan bertumpuk. Lalu merangkak keluar dari lubang pasir tempat mereka lahir.

Perjuangan mereka sebelumnya hanya langkah pembuka dalam kehidupan mereka. Setelahnya, mereka masih harus menggerakkan sirip-sirip dan membawa tubuh kecil mereka melewati hamparan pasir yang membentang hingga bibir pantai. Mereka pun tanpa ragu menghampiri laut yang seakan terus menolak kehadiran mereka dengan ombaknya, Didorong oleh nalurinya untuk terus hidup, mereka terus maju meskipun terus terhempas pula. Tapi, kelelahan luar biasa yang mereka alami sama sekali tak sebanding dengan harga kehidupan yang akan mereka dapatkan di laut luas sana.

Kehidupan di lautan pun tak selalu nyaman dan aman. Tak jarang terdapat pemangsa yang menjadikan mereka salah satu preferensi menu makanan. Atau mungkin menjadikan tubuh kecil mereka sekadar cemilan. Tapi sekali lagi, kehidupan di lautan luas yang penuh bahaya jauh lebih berharga dan akan membuat mereka menjadi sebenar-benarnya penyu dibandingkan dengan kehidupan di yang aman dan datar di pesisir.

Terdapat perilaku lain dari penyu hijau yang kukagumi. Sayangnya, perilaku ini hanya terdapat pada penyu hijau betina: penyu betina tak akan pernah lupa tempat mereka lahir dan memulai perjalanan hidupnya, dan mereka akan selalu kembali ke tempat itu untuk mempertahankan jenisnya melalui perkembangbiakkan. Seakan mereka mengingat betul tempat asal mereka serta bagaimana perjuangan mereka dahulu. Lalu, memastikan bahwa anak-anaknya harus belajar dan menjadi tangguh sebagaimana dirinya.

Perjuangan, bagaimanapun bentuknya, adalah usaha yang dimulai dari diri sendiri. Terkadang kau perlu melewati himpitan kerumunan—yang mungkin adalah teman-temanmu—dan berjuang untuk hal yang benar-benar bermakna untukmu. Melewati halangan dan rintangan yang dapat menghempaskanmu kapan saja. Menghadapi musuh-musuh—dari dalam dan luar diri—yang pada kondisi tertentu mampu dengan mudah meremukkanmu. Percayalah bahwa tak jarang hal yang membuatmu lelah dan terus bekerja keraslah yang pada akhirnya membuatmu benar-benar menjadi manusia seutuhnya.

Sekarang, tolong izinkan tukik kecil ini menghampiri pantai berombak, pintu menuju lautan luas di mana ia akan benar-benar bebas, terlepas dari segala kemungkinan bahaya yang ada.

Referensi:

General Behavior Patterns of Sea Turtles. http://www.conserveturtles.org/seaturtleinformation.php?page=behavior

Losing Parts of Me

“…losing parts of me I thought I needed.”-Sarah Kay dan Phil Kaye dalam When Love Arrives

Malam itu aku memutuskan untuk mengunjungi Bapak. Untuk meyampaikan beberapa hal, meminta izin, dan meminta sesuatu yang tanpa perlu kuucapkan pun ia sudah tahu.

Setibanya aku di tempatnya, aku langsung disuguhi keripik singkong. Aku suka sekali keripik singkong. Sambil bercerita, aku terus memasukkan keping demi keping keripik singkong. Asin dan gurih. Rasa yang begitu menyenangkan jika kau baru saja bepergian atau berkendaraan dalam waktu yang lama atau agak lama.

Aw. Tiba-tiba gigi geraham belakangku tiba-tiba memberi isyarat berupa rasa nyeri. Entah pada keping keberapa. Ada potongan keping yang tersangkut, pikirku. Jari-jariku yang penasaran langsung melongok ke dalam rongga mulut, mencari-cari keping itu. Sayangnya mereka tidak bisa melihat. Pun bisa melihat, di dalam sana terlalu gelap. Mereka meraba-raba. Agak lama. Tak ditemukan apa-apa.

Aku meminta tusuk gigi kepada Bapak. Mungkin lebih efektif, pikirku. Ia pun ikut masuk ditemani jari-jari. Dengan tubuh kurus langsingnya, ia meraba-raba hingga sela-sela di antara geraham. Agak lama. Tak ditemukan apa-apa. Sensasi nyeri masih terasa.

Jari-jari sepertinya frustrasi. Tapi mereka kembali mencari. Nyeri ini harus segera diatasi.

Kali ini mereka agak gusar. Menabrak geraham-geraham dengan sedikit kasar.

Aw. Nyeri makin menjadi.

Kami pun sadar, geraham belakang yang sudah berlubang sedikit bergoyang saat kena tendang.

Pasti ini sumber sensasi nyeri!

Jari-jari pun sengaja mendorong si geraham goyang. Nyeri. Dorong. Nyeri. Dorong. Entah sudah berapa kali. Akhirnya si geraham goyang tumbang.

Diangkatlah ia keluar. Kondisinya mengenaskan. Ia terbelah jadi dua bagian.

Lalu sensasi nyeri perlahan berkurang. Berkurang. Berkurang. Menghilang.

Tapi rasanya ada yang kosong. Pengisi ruang di rahang menghilang bersamaan dengan sensasi nyeri. Padahal geraham itu bukan gigi susu. Aku akan terus membutuhkannya sepanjang waktuku.

Tapi kini rasanya kosong.

Ternyata kehilangan–terpisah dari–sumber rasa sakit tidak semenyenangkan yang aku duga.

Kebohongan dalam Hubungan Romantis

Tak bisa dipungkiri bahwa kita semua menginginkan hubungan romantis yang tumbuh dari keterbukaan, keintiman, dan kepercayaan. Namun, kenyataannya tak selalu demikian. Read the rest of this entry »

Perjalanan Hidup

Seseorang pernah berkata pada saya, jika saya memang menentang dan berusaha menghindari sistem komando mutlak yang memiliki kecenderungan tinggi akan timbulnya destructive obedience, maka cepat atau lambat saya akan mulai mempertanyakan kebenaran dogma-dogma yang selama ini saya percaya–dalam agama. Pada saat itu, saya hanya mengiyakan perkataan tersebut karena saya pun juga sudah memperkirakan bahwa memang akan selalu ada kemungkinan untuk itu.

Mungkin, hari itu telah datang meski tanpa adanya kejadian dramatis yang membukanya. Saya pun sadar–dan mau menerima–bahwa saya perlu melihat dari kacamata yang benar-benar berbeda, yang mungkin bertentangan dengan pernyataan yang selama ini saya terima sebagai kebenaran. Namun saya sendiri berusaha untuk mengolah serta menanggapi informasi dari kacamata tersebut sebijaksana mungkin. Sehingga, tak serta merta beranjak dari satu landasan menuju landasan lain yang belum terkonstruk dengan kuat, melainkan terus membangun kedua landasan tersebut sedikit demi sedikit dan baru menentukan pilihan ketika keduanya sudah terkonstruk dengan kuat dan tak lagi bersifat parsial.

Belakangan ini, seringkali pikiran-pikiran tentang itu muncul begitu saja di benak saya, melintas ke sana ke mari, melompat-lompat. Saat berbagai lompatan pikiran tentang dogma bertemu dengan pikiran-pikiran tentang hidup dan perjalanan melaluinya, ada dua suasana yang langsung terbayang: lorong panjang yang lurus dan padang luas.

Aku membayangkan perjalanan hidup orang yang mematuhi dogma dengan tertib dan istiqomah sebagai perjalanan melewati lorong lurus itu. Lorong lurus yang harus ditempuh hingga sampai pada ujungnya. Tak perlu menoleh ke kanan ataupun ke kiri. Yang terpenting adalah berjalan dengan konsisten. Di ujungnya, dijanjikan berbagai keindahan serta kenikmatan abadi. Tapi sekali lagi, tak perlu tengok kanan-kiri. Jangan pula berbalik langkah dan kembali menjauh dari ujung jalan yang dijanjikan, terlebih memilih jalan-jalan lain. Jika begitu, kita tak hanya akan kehilangan kesempatan untuk memperoleh hadiah yang dijanjikan, melainkan juga akan mendapat hukuman. Bekal yang perlu kau siapkan untuk melewati lorong ini adalah konsistensi dan disiplin tinggi. Jika bekalmu tak cukup, sungguh perjalanan itu akan jadi sangat melelahkan.

Sedangkan perjalanan hidup orang yang terlepas–atau melepaskan diri dari–dogma layaknya perjalanan melewati padang yang luas. Di padang itu, kita bebas untuk melangkah ke manapun walau dengan tujuan yang sama: hadiah. Di berbagai sudut padang itu terdapat banyak petunjuk yang menjelaskan jalur-jalur untuk mencapai tujuan, tapi tak jarang petunjuk itu justru menyesatkan kita sebagai pengembara. Hal terbaik yang bisa dilakukan adalah menggunakan nalar atau akal budi yang kita miliki untuk mengolah informasi dari petunjuk-petunjuk tersebut. Yang perlu diperhatikan adalah, resiko bagi kita untuk berakhir di ujung jalan yang mengerikan atau hanya menghabiskan usia berputar-putar di jalur yang sama akan selalu ada. Dan memang butuh usaha yang lebih besar untuk mengolah informasi dibanding tunduk mengikuti petunjuk. Dengan kemungkinan itu bisa saja kita terlalu takut untuk sekadar mengambil langkah maju. Maka dari itu, perlu komposisi antara keberanian dan kebijaksanaan yang tepat untuk bisa melewati padang luas itu dengan selamat.

Masing-masing perjalanan memiliki karakteristik, kelebihan, dan resikonya masing-masing. Setiap orang–semoga saja–juga memiliki alasannya masing-masing untuk memilih berjalan di jalur yang dipilihnya. Alasan yang merupakan buah pikiran dan penalaran, yang membedakan manusia dan hewan.

Saya sendiri sedang berusaha melangkahkan kaki di padang rumput, mencoba membaca petunjuk-petunjuk yang ada sambil terus mengolah informasi darinya. Sedangkan anda, jalan mana yang anda pilih?

Di Ketinggian

Jalan setapak licin menanjak hubungkan jauhnya jarak

Jalan, jalan terus tak perlu lama-lama meletakan kaki

Boleh saja kalian kembali, namun tentulah akan merugi

Lihat!

Pohon ranting jurang tebing digantikan padang membentang berhias edelweiss, rerumputan, dan ilalang

Lelah seketika melayang, lebur dalam luasnya langit teduh lagi tenang

Lari lari larilah layaknya jadi bocah lagi

Lompat lompat lompatlah seakan tiada perkara yang menghambat

Jangan peduli dengan mereka yang tak mau menikmati kebahagiaan ini

Lepaskan saja tawa hingga ia membahana

Menyapa lembahan dan punggungan di berbagai sisi

Hingga senja tiba, ketinggian ini milik kita

IMG_2080

Tegal Alun, Gunung Papandayan, 30 Maret 2013

%d bloggers like this: