Living Memoir

I am nothing else but that which I make of myself.

The City is Fundamentally About People

In the earlier phase as a psychology student, I never had any greater aspiration than having a good job that will pay me well without having me restrained in the tiny cubicle. But now, I believe that I could do more than that. The world is constantly changing—it can be better or worse, and the ones that have a great impact on how and where the changes head are the bold ideas of the people.

3c2a59226d875122598f0fc0b4ca9af4e7d928eb_1600x1200Amanda Burden, Principal of Bloomberg Associates (image source is here)

It’s Amanda Burden, one of those people who inspired me with their ideas and changed my outlook of life. Now she’s the Principal at Bloomberg Associates, an international consulting service which founded as philanthropic venture to help city governments improve the quality of life of their citizens. Before that, she was the director of the New York City Department of City Planning and Chair of the City Planning Commission under Mayor Michael Bloomberg from 2002 to 2013. Within her decade as someone who played a big part in shaping NYC—the most populous city and the cultural and financial capital of the world, she was able to claim and develop public spaces in the city at the outset for public use, and I think that it’s a terrific achievement. It might sound simple, but there’s always a great fight between common good and commercial use which she had to handle in the process. Months of daily negotiation has to be faced to win citizen’s rights over what-so-called money for the city. She also walked around city, block to block for years, trying to understand what the citizens really need from their city. Such dedication she had, which seems to be almost lost in the governments around the world, really put me in awe and inspired me. Then I realized that while the struggle for common good can be really hard, the result will always worth it and we shouldn’t give up on it.

article-2139899-12EF2F80000005DC-992_964x1437

The High Line (image source is here)

The High Line park is one the public space that successfully saved for public use. It was an elevated railway, and when the train stopped running, it became a self-seeded landscape, a kind of a garden in the sky, Burden said. But not all the people see the beauty. Some of them try to demolish it, and the others just see it as the source of money by adding shops along the way—which make it no difference than any other mall. But, she makes the city take a long view, a view for common good. Through another long-struggle, High Line becomes a monumental achievement dedicated for people in the city.

Highline_NYC_4546199798_2fb244ec8b

Another view of High Line (image source is here)

Besides all the achievement she has made, I think the most amazing part about her is that she’s an animal behaviorist, and she uses the skills she has to study how people in cities use city public spaces. She has the basic idea that city is fundamentally about people. So to build a city which fit best for the people, we have to learn about people—the human. To know what the best is for people, we don’t tap into our design expertise. We tap into our humanity. Eventually, I learned that I can use my knowledge about human behavior—psychology—for common good in the much broader perspective. Amanda Burden shows me that there’s no limitation to contribute something for other people, and there’s no need to limit ourselves in the typical job from our field of expertise. Yet I think there’s a responsibility for us: psychology academicians, to make sure that our knowledge be beneficiary to enhance people’s well being through any possible way. The one I’m interested to is about how to implement psychological assessments, researches, and theories into city planning and policy making—which is still rarely considered here. The good news is, my campus’ faculty has been oriented towards urban psychology, and that could be a great start. So, let’s tap into our humanity and build a more humane city! :)

The last, I’ll quote another powerful lines from Amanda Burden: “No matter how popular and successful a public space may be, it can never be taken for granted. Public spaces always—this is it saved—public spaces always need vigilant champions, not only to claim them at the outset for public use, but to design them for the people that use them, then to maintain them to ensure that they are for everyone, that they are not violated, invaded, abandoned or ignored. If there is any one lesson that I have learned in my life as a city planner, it is that public spaces have power. It’s not just the number of people using them, it’s the even greater number of people who feel better about their city just knowing that they are there. Public space can change how you live in a city, how you feel about a city, whether you choose one city over another, and public space is one of the most important reasons why you stay in a city.”

Reference:

http://blog.ted.com/2014/03/18/public-spaces-have-power-amanda-burden-at-ted2014/

Kapan Kita Bicara Tentang Kemanusiaan?

BsR4RojIMAAuxBW.jpg large(Gambar diambil dari sini)

 

BsLrCnWCQAASGOx.jpg medium(Gambar diambil dari sini)

 

BsVNey-IcAAVFce.jpg large(Gambar diambil dari sini)

 

Sejak isu penyerangan Gaza oleh milisi Israel mencuat di media-media informasi berbasis internet bulan Juni lalu, dan terus mewarnai berbagai jejaring sosial sepanjang Juliyang bertepatan dengan bulan Ramadhan, seruan dengan narasi seperti di atas rasanya menjadi hal yang tak asing lagi bagi pengguna jejaring sosial. Kabar terkini mengenai kondisi Gaza yang menjadi lahan konflikatau lebih tepat dapat disebut lahan penindasan (baca: Shepard, 2014; Wight, 2014)secara berkala disiarkan. Bersama dengan itu, seruan untuk peduli terhadap korban, khususnya dari pihak Palestina secara lantang disampaikan oleh rekan-rekan dari berbagai lokasi dan latar belakang.

Yang menurut saya cukup menarik adalah, munculnya narasi: “it’s not about religion, it’s about humanity” atau ungkapan-ungkapan senada, dan berdasarkan pengamatan pribadi saya, umumnya narasi semacam itu diserukan oleh umat muslim. Menarik, sebab saya sendiri hampir tak pernah mendengar ungkapan semacam itu diserukan oleh umat muslim sebelumnya. Biasanya kan, ungkapan itu cuma jadi seruan dari penggiat HAM yang tak jarang memang dibedakan dari umat muslim. Biasanya juga, yang menjadi dasar kepedulian umat muslim adalah ajaran tentang keterikatan antar penganut Islam, bersumber pada hadits yang mengumpamakan orang-orang mukmin sebagai satu tubuh. Yang ketika salah satu bagiannya sakit, maka panas demam atau ikut sakitlah sekujur tubuhnya. Pergeseran (atau variasi?) dalam narasi kepedulian inilah yang membuat saya tertarik untuk melihat tren ini secara lebih mendalam.

Ternyata, hal tersebut juga menarik bagi orang lain juga, dan akhirnya menuai beragam pandangan. Ada yang skeptis, dan menilai itu hanyalah tuntutan agar masyarakat secara umum peduli dan tak benar-benar dihayati oleh penyerunya sendiri. Seruan tentang kemanusiaan dianggap hanyalah hipokrisi dalam melakukan pembelaan atas golongannya. Lalu diikuti dengan argumen-argumen yang menggambarkan ketidakpedulian umat muslim Indonesia terhadap yang bukan golongannya. Saya sendiri, dan mungkin sebagian lainnya, memandang bahwa terangkatnya ungkapan tersebut sebagai awal yang baik, terlepas dari ketulusan penyerunya, yang kita semua takkan pernah ketahui secara pasti. Namun, bahwa gagasan tentang rasa kemanusiaan yang melampaui batas-batas yang selama ini mengotak-ngotakan manusia menjadi semakin diterimaatau paling tidak semakin sering diucap dan dikenaltentunya merupakan kabar baik. Bagi umat muslim sendiri, kritik tersebut dapat bersifat membangun jika memang diterima dengan bijak serta menjadi pengingat bahwa kepedulian mereka begitu diharapkan oleh golongan-golongan terdekat lainnya.

Saya tidak ingin menuntut setiap orang untuk peduli terhadap setiap orang yang membutuhkan kepedulian, sebab saya sendiri cukup mengerti bahwa selain hati nurani, dibutuhkan pula sumber daya mental untuk mengolah kepedulian. Tidak ada manusia yang cukup tangguh mampu membagi pikirannya untuk setiap masalah di dunia. Namun yang terpenting adalah tentang bagaimana kita menembus tembok-tembok tinggi yang mengotak-ngotakkan manusia begitu jauh. Membuat kita justru melupakan hal yang terpenting: bahwa kita terikat oleh satu persamaan sebagai manusia. Yang sepatutnya diikuti pula oleh satu rasa kemanusiaan yang melampaui ras, suku, warna kulit, agama, tempat asal, serta ideologi. Dan jika kemanusiaan tersinggung, semua orang yang berperasaan dan berfikiran waras tentu ikut tersinggung, terlepas dari segala atribut yang melekat pada dirinya, sebagaimana disampaikan Pram lewat buku Bumi Manusia. Bukankah sejarah sudah begitu banyak memberikan pelajaran, betapa perbedaan yang dilestarikan dengan bumbu kebencian hanya membawa kerusakan di dunia kecil kita ini?

Akhir kata, semoga kepedulian yang manusiawi ini mampu melewati tembok-tembok tinggi perbedaan yang memisahkan. Semoga kepedulian kita mampu menjadi solusi bagi saudara kita, warga Palestina maupun umat Syiah Sampang yang sama-sama terlantar di negaranya; masyarakat Suriah yang menjadi korban perang sipil; masyarakat Papua yang tak pernah sejahtera meski ‘dispesialkan’ oleh negara; petani yang tanahnya dirampas; dan minoritas yang terusir rumahnya dan dari negaranya. Semoga kita belajar menerima bahwa perbedaan adalah keniscayaan yang tak mungkin dimurnikan. Semoga setiap dari kita bisa mengambil peran, membawa dunia ini ke arah yang lebih baik.

V for Valerie

When it comes to movie, I tend to be a bit conservative . Instead of having passionate motivation to explore newest movie, most of the time I find it exhilarating watch my favorite movies—or movie scenes—again and again. One of them is V for Vendetta, a movie based on the 1982 Vertigo graphic novel of the same name by Alan Moore and David Lloyd. This movie set in the future Britain, which is governed by totalitarian rule of the fascist party. The story itself is about the revenge of V (protagonist) and how he guide the British people to overthrow their dictator-led government, which might be concisely represented by this quote of him: “People shouldn’t be afraid of their government. Governments should be afraid of their people”.

But among all the thrilling scenes in this movie, there’s a scene that keeps me watching it again and again: Valerie’s autobiography scene. This powerful scene tells about the life of a gay woman who were trapped in the country who were burned by the hatred of ‘the different ones’.

vendettanw5aValerie, after she was captured (the image source is here)

Here is the complete transcript of her autobiography, based on the film:

“I know there’s no way I can convince you this is not one of their tricks. But I don’t care. I am me.

My name is Valerie. I don’t think I’ll live much longer, and I wanted to tell someone about my life. This is the only autobiography that I’ll ever write, and–God–I’m writing it on toilet paper.

I was born in Nottingham in 1985. I don’t remember much of those early years. But I do remember the rain. My grandmother owned a farm in Tottlebrook, and she used to tell me that God was in the rain.

I passed my eleven plus, and went to a girl’s grammar. It was at school that I met my first girlfriend. Her name was Sarah. It was her wrists–they were beautiful. I thought we would love each other forever. I remember our teacher telling us that it was an adolescent phase that people outgrew.

Sarah did.

I didn’t.

In 2002 I fell in love with a girl named Christina. That year I came out to my parents. I couldn’t have done it without Chris holding my hand.

My father wouldn’t look at me. He told me to go and never come back. My mother said nothing.

I’d only told them the truth. Was that so selfish? Our integrity sells for so little, but it is all we really have.

It is the very last inch of us.

And within that inch, we are free.

I’d always known what I’d wanted to do with my life, and in 2015 I started my first film: The Salt Flats.

It was the most important role of my life. Not because of my career, but because that was how I met Ruth. The first time we kissed, I knew I never wanted to kiss any other lips but hers again.

We moved to a small flat in London together. She grew scarlet carsons for me in our window box. And our place always smelt of roses.

Those were the best years of my life.

But America’s war grew worse and worse, and eventually came to London.

After that there were no roses anymore. Not for anyone.

I remember how the meaning of words began to change. How unfamiliar words like “collateral” and “rendition” became frightening. When things like Norsefire and the articles of allegiance became powerful. I remember how different became dangerous.

I still don’t understand it: why they hate us so much.

They took Ruth while she was out buying food. I’ve never cried so hard in my life. It wasn’t long until they came for me.

It seems strange that my life should end in such a terrible place.

But for three years I had roses–and apologised to no-one.

I shall die here. Every inch of me shall perish. Every inch.

But one.

An inch.

It is small and it is fragile, and it is the only thing in the world worth having. We must never lose it or give it away. We must never let them take it from us.

I hope thatwhoever you areyou escape this place. I hope that the world turns, and that things get better.

But what I hope most of all is that you understand what I mean when I tell you that even though I do not know you, and even though I may not meet you, laugh with you, cry with you, or kiss you: I love you.

With all my heart.

I love you.-Valerie.

For me, the message is quite simple actually: no matter who we are or the labels people put on us, we all share the humanity and that’s more than enough for us to love each others. We don’t need to know, to meet, to laugh, to cry, or to kiss to love our fellow human. Too bad many of us forget this and keep living in hatred, even towards the ones they never knew and met. But I believe that just like Mandela said, no one is born hating another person because of the color of his skin, or his background, or his religion. People must learn to hate, and if they can learn to hate, they can be taught to love, for love comes more naturally to the human heart than its opposite. And I also believe that things will get better.

What’s Your Life Goal?

“What’s your life goal?”

It was after midnight when a friend asked me that question amid our conversation. Didn’t take a long time for me to answer it for I always have the thought of it in my mind these days. As our conversation kept going on, my curiosity arose: how about the others? I was wondering about it, their life goal. So, I decided to simply ask them. I called 26 of my friends through instant messaging and asked them the same question I got earlier.

I got various kinds of answer that somehow gave me a chance to see through my friends’ perspective. There was some kind of excitement whenever I read it one by one.

Here are their responses (Rewritten word to word, with little punctuation revision):

  1. Being a good khalifah on earth.
  2. Mau bekerja sesuai passion sembari travel around the world. Terus mau punya anak, mau ngerasain kaya ibu gitu, disayang sama anaknya haha. Tujuannya: supaya bahagia sembari membahagiakan orang lain.
  3. Living my whole life with passion.
  4. Being a person that can empower others.
  5. Being someone I’m not ashamed of.
  6. Menjadi manusia seutuhnya.
  7. Jadi ibu yang baik.
  8. Ga punya. Gue mendapati diri gue bernafas dan dapat membuka mata di tiap pagi. Ya udah makanya hidup. Entahlah hahaha. Itu yang menjadi alasan gue hidup saat ini.
  9. Sejujurnya gue pun masih mencari. Secara umum gue ingin bermanfaat untuk banyak orang. Caranya dan bidang apa yang mau gue fokuskan itu masih dalam tahap penjajakan.
  10. Jawaban klasiknya sih… menghamba kepada Tuhan. Tapi, jawaban jujurnya money… karena dengan money bisa beli power, money and power. Uang dan kekuasaan.
  11. My life goal? To be happy? No, to be happy with the people I love.
  12. Mencapai moksa. Moksa itu bersatunya atman dengan Brahman. Atman itu yang mengisi jiwa manusia, untuk dapat hidup. Brahman itu Tuhan. Jadi kalo selama hidup masih melakukan keburukan, manusia kan bakal hidup lagi, reinkarnasi. Nah, kalo dia melakukan kebaikan selama hidupnya dan dianggap pantas mencapai moksa ya dia bakal bersatu sama Tuhan. Itu sepemahamanku di agamaku. Itu tujuan hidup umat Hindu. Aku pribadi menyederhanakannya dengan selalu berbuat kebaikan… walaupun manusia ga luput dari kesalahan.
  13. Bermanfaat.
  14. Hmmm, pengen punya TK yang keren.
  15. I wanna do something that makes my whole life worthwhile. Like, being as one with the universe, being rahmatan lil ‘alamiin. And if that should probably be too much, I wanna be the one who raises the future of the great mother earth.
  16. Goal ya… Mmm banyak. Untuk diri sendiri, untuk keluarga, untuk keluarga gue nanti, untuk masyarakat, untuk negara, untuk agama. Sekarang gue lagi coba ada di track untuk mencapai itu semua. Intinya, gue selalu membayangkan diri gue di masa depan lagi mainin beberapa bola bersamaan.
  17. Masuk halaman sosialita Kompas.
  18. Mati, I guess. Hanya karena kita melihat di sekeliling segelintir orang mati, dan banyak cerita soal orang mati, bukan berarti kita bisa yakin pasti mati. Siapa tahu nanti… ga bisa mati. Inductive reasoning ga bisa kasih kepastian. Alah, anyway, mati dengan cara baik-baik jelas adalah goal.
  19. Bermanfaat bagi orang lain. Hahaha. Spesifically, I want to empower and educate poor children. Sounds cliche, eh? :p Payung besarnya banget sih gue pengen berkontribusi mewariskan dunia yang lebih baik, lebih waras buat keturunan gue dan keturunan umat manusia lainnya. Hahahaha.
  20. Tidak menyulitkan orang tua sama sekali dalam hal finansial, bisa bantu sekolahin adek dan punya keluarga kecil yang sederhana. Cetek ya? Hahaha malu.
  21. To know more. And help others to know more. Kemarin malam baru saja gue ngomongin ini sama temen gue. Kesimpulannya adalah your most basic emotional sensitivity, or reactivity, akan mengarahkan life goals elu. Misalnya: life goals gue itu karena my most sensitized emotion is wonder. Therefore it is my most salient reward system.
  22. Pursuing happiness. The ultimate happiness.
  23. Kalau gue sih, tujuan hidup gue adalah mengabdikan diri gue kepada masyarakat. Gue ingin, dengan apa yang gue punya, gue dapat memberikan sesuatu ke masyarakat. Tapi gue ingin mengabdi dengan jiwa yang murni. Dan gue masih mempersiapkan diri untuk itu.
  24. Surga. Haha malu sih tapi masih jauh banget dari itu. Bermanfaat bagi orang banyak, salah satu jalan yang aku pilih buat menuju ke situnya.
  25. Life goal: 1. Pengen ga diremehin orang lagi. Isu personal sih ini dari kecil sampe sekarang gue bergelut sama remehan orang. Tapi berhubung sampe kapanpun ga mungkin ga ada orang yang ngeremehin setinggi apapun jabatan/pendidikan/prestasi, ini yang drive gue buat achieve more, grow faster. 2. Jadi bermanfaat buat sebanyak-banyaknya orang. 3. Bikin tempat tinggal (dunia) yang lebih baik lagi.
  26. Membahagiakan orang tua dan memajukan pendidikan di Indonesia. Membahagiakan anak-anak Indonesia juga.

Well, then how about me? My life goal is to be fully independent. To be able to shape my own life, to be able to choose the way I’d go to. To appreciate the freedom, and to make sure that everyone’s able to do so. To be strong enough not only to stand up for myself, but also to lift people up. It wouldn’t be an easy way, but hey, I already took few steps and so far, it’s not only ‘okay’, it feels great.

As I said before, it’s exciting to try looking through people’s perspective based on their goal for life. But beside that, some of them are also quite evocative, at least for me. I can actually see that one’s life goal isn’t only about achievement or capacity to achieve something, but also—or maybe more importantly—about how we see ourselves; about the continuous process we live; and about how we face the end of life itself.

So, what’s your life goal? :)

It’s Not So Bad

Day 6: my foot still hurts…

Read the rest of this entry »

Untuk yang Kelima

Kita masih terus berjuang, menjelang akhir tahun ketiga di Fakultas Psikologi UI, saat-saat ketika tuntutan akademis semakin memuncak, terwujud dalam tugas-tugas kuliah yang seakan tak pernah habis serta materi pembelajaran yang semakin lama semakin kompleks dan menantang.Melangkah semakin dekat dengan akhir masa studi kami, berbagai emosi yang seringkali muncul secara intens, mengikuti hari-hari yang terus bergerak pergi. Semangat untuk segera mempersiapkan diri demi fase kehidupan selanjutnya terus tumbuh, tanpa bisa lepas dari kekhawatiran akan segala kemungkinan. Tak jarang penyesalan-penyesalan pun terkembang, dan rasa syukur tak selalu bisa melepaskannya dalam kelegaan. Semua perasaan-perasaan itulah yang berkombinasi dan mungkin terus menciptakan gejolak batin pada masing-masing diri kita. Mungkin itulah yang seringkali membuat kita begitu terokupasi pada diri kita sendiri, karena memang ia adalah tantangan berat yang harus dihadapi. Namun di samping semua itu, ada perasaan mungil yang sesekali muncul dan meminta sedikit ruang, perasaan yang mengingatkanku pada kita.

2014-06-03-09-53-47_deco(11 Februari 2012, Puncak Gunung Kencana)

Ingatkah kalian saat kita menghirup aroma khas udara pagi berkabut tepat ketika keluar dari tenda? Ingatkah kalian ketika kita menyantap masakan hangat buatan kita (yah, meski aku tak pernah berkontribusi banyak dalam urusan masak-memasak) di malam-malam dingin sebelum kita terlelap? Masih ingatkah kalian saat kita harus berlari tergesa sambil tetap memanggul carrier untuk menuju puncak gunung? Ingatkah kalian saat kita berlima belas menatap hamparan muka bumi di antara kaki-kaki gunung sambil terus bernyanyi meski mungkin tak merdu sama sekali? Dan masih ingatkah kalian akan malam-malam yang kita habiskan bersama, terjaga dan bercerita tentang apa yang kita rasa? Aku masih mengingatnya betul dan entah mengapa ingatan itulah yang terus muncul sesekali di antara hiruk pikuk pikiran lain. Aku rindu perjalanan-perjalanan serta pembicaraan-pembicaraan di antara kita.

Tahukah kalian bahwa aku cukup menyesalkan fakta bahwa di penghujung masa kuliah ini, aku masih belum mampu memberikan banyak hal untuk rumah kita, bahkan untuk hal kecil seperti kehadiran? Tapi, aku ingin kalian tahun bahwa dalam setiap kesempatan aku kembali ke rumah, aku benar-benar merasa telah ‘pulang’, sesingkat apa pun itu (saat kita membahas tentang iklan yang kalian bintangi, suatu siang di Kantin Lama, misalnya). Selain itu, aku pun ingin kalian tahu bahwa aku ingin menutup masa pendidikan di sini dengan sebuah perjalanan bersama kalian. Semoga itu bukanlah harapan yang muluk-muluk.

Terima kasih dan sampai jumpa dalam perjalanan itu.

 

Teruntuk para anak panah yang telah melesat jauh dan dinanti kepulangannya:

mtf_iYEDW_150

G-045-Ψ UI : Amelya Dwi Astuti
G-046-Ψ UI : Rima Rizki Kuswisnu Wardani
G-047-Ψ UI : Pradina Paramitha
G-048-Ψ UI : Yulita Astriani Putri
G-049-Ψ UI : Kamalia
G-050-Ψ UI : Muhammad Edma Khairan
G-051-Ψ UI : Absharina Izzaty
G-052-Ψ UI : Nadya Annisa Prasanti
G-053-Ψ UI : Aulia Nadilah
G-054-Ψ UI : Muhammad Kautsar Ramadhan Sukin
G-055-Ψ UI : Anah Rabi’ah
G-056-Ψ UI : Annisa Dwi Astuti
G-057-Ψ UI : Bimo Bramantyo
G-059-Ψ UI : Hanifah Nurul Fatimah

dari G-058-Ψ UI: Gumilang Reza Andika

State of Disequilibrium

Somehow I came to this point: out of sudden remembered the story of a woman named Resha Valentine. A fictional character in the Rave Master, Japanese manga series written and illustrated by Hiro Mashima. She possesses Aetherion, the most powerful magic in the entire Rave Master Universe which has the power of destruction while having power to create. But, the great power   itself comes with severe consequences. Aside taking it’s toll to her body even just to try to control it, Aetherion also led many people who were driven by the fear that its power would go out of control to chase for her and try to restraint the power. Causing the carefree Resha to be burdened by her own possession. Later in her life, a man told her that fate is cruel and if she did not have Aetherion, she would have live a normal life.

Resha_Valentine

Resha Valentine, The Aetherion Possessor (image is taken from here)

In less than a year, I learned a lot. Or maybe not really. But the thing is, even if I actually didn’t learn that much, it has great implication to me. It gives me sense of power because for me, knowledge is some form of power. Because by having the knowledge, I’d get more capacity to take control over myself, my life, or even the others’.

I believe that every single of usthe people who live inside the social sphere, by some means is controlled by the given social system. At some point, it might became too constraining for oneself to act independently and to make his/her own free choices. It also appears to be irrational sometimes, yet we have to accept it the way it is, or we might even never realize that we’ve been controlled all the time. But even with such given condition, we still be able to expand some space for our free choices and be freer. And the most basic requirement to achieve it is by knowing that we are constrained; which part of you and your life that’s irrationally constrained by society; and why you deserve to freer. Yep, knowledge is the key.

And as I said before, knowledge is some kind of powerpotentially be a great one. But, just like Aetherion, it comes with some consequences. For those who can’t handle it well, having more knowledge can be overwhelming, tiresome or even stressful. Such thing happens to me lately. It was like, “Yes, with this more knowledge and newer perspective, now I really know what should and what shouldn’t. I also know what I want and vice versa. But haven’t been ready yet to face it”. Eventually it only ended up with series of anxiety, distress, or despair. There’s also time when I thought that if I don’t have such knowledge, I would be less anxious and happier to live my life. Whereas, I actually could manifest such knowledge into invention, structured plans for the future, or any great things, if I could handle it well.

It took awhile until I realized the insight of this phase of my life. Piaget once argued that development is driven by the process of equilibration. In some point of our life, we might face experience cognitive conflict and be thrown into state of disequilibrium. A state which I think I’m in. Within such state, we are more likely to be distressed or dissatisfied and it’s extremely uncomfortable. But we always have ways to get closer to the equilibrium state. If we refer again to Piaget, the ways is: assimilation, using an existing schema to deal with a new object or situation; and accommodation, changing the existing schema to deal with a new object or situation if the old one doesn’t work. We have to note that some kind of conditions force us to change ourselves, while the others need us to seek more knowledge. And as we undergo that process of equilibration, we also develop ourselves to be better.

It’s not a straight path, though. We might face social restrain in developing ourselves through the knowledge we obtained. There is also self-limitation along the way. But however unpleasant it is, I believe that the act of seeking knowledge,  adjusting, and making use of it is the only way to get closer to our actualized self. So, I don’t think I should regret for being arrived in this state.

Reference:

Equilibration. http://penta.ufrgs.br/edu/telelab/3/equilibr.htm

Jean Piaget. http://www.simplypsychology.org/piaget.html#adaptation

Untuk yang Tercinta: Keinginanku

Untuk yang tercinta,

Aku ingin tak sekadar menghubungi kalian saat uang sakuku menipis menuju terkuras habis.

Aku ingin tak sekadar memaparkan bahwa aku menghadapi masalah ini itu agar dapat kalian bantu.

Aku ingin tak sekadar mengabari bahwa aku akan pulang dalam waktu dekat sehingga tiket dapat kalian siapkan dengan cepat.

Aku ingin tak sekadar bercerita kepada kalian tentang betapa perlunya aku akan sesuatu supaya nantinya kalian dapat membuatnya sampai di tanganku.

Aku ingin dapat menggerakkan diri untuk menghubungi kalian saat aku memang merindukan kalian.

Aku ingin bisa cukup terbuka untuk memaparkan pengalaman membahagiakan yang kualami hanya karena aku rasa hal itu dapat membuat kalian bahagia juga.

Aku ingin memiliki kesempatan untuk membangun sebanyak mungkin kabar baik untuk kukabarkan kepada kalian dan terus mengalokasikan waktu untuk mengabarkannya.

Aku ingin bertahan di sini, tak memanfaatkan liburan di sela-sela semester untuk kembali, namun dapat membawa oleh-oleh terbaik yang bisa kuberi.

Aku ingin kalian tahu bahwa sejauh apapun aku ingin pergi, selama apapun aku berada di sisi lain bumi, aku akan kembali.

Dan aku sedang belajar untuk mewujudkannya.

Di Atas Perosotan

Taman kanak-kanak di depan rumah. Setelah beranjak dewasa, aku tidak pernah benar-benar mampu mengingat mengapa aku berada di sana pada pagi itu. Mungkin karena sekolahku dimulai menjelang tengah hari atau mungkin hari itu adalah hari libur.

Cuaca cerah. Langit menyampaikan pesan yang kutangkap sebagai spektrum warna biru muda. Diiringi awan-awan putih tipis.

Aku, seorang anak yang belum beranjak dari skema bahwa matahari selalu berpasangan dengan siang dan bulan selalu berpasangan dengan malam begitu takjub pada perbedaan di pagi itu. Bulan kelabu pucat terlihat ditengah ke biruan luas. Begitu baru bagiku. Isi kepala anak kecil coba mengaitkan pengetahuan baru dengan yang sudah dipunyai untuk menjelaskan anomali yang ia temui. Mungkin karena ini adalah negara tropis, pikirku dulu.

Aku tidak sendiri pada pagi itu. Ada seorang teman. Salah satu dari kami—aku lupa siapa—merebahkan diri di perosotan berbadan semen yang memang tidak terlalu licin. Kami menatap jauh ke atas. Aku tidak pernah benar-benar mampu mengingat mengapa kami berada di sana, begitu juga dengan apa yang kami bicarakan. Yang aku ingat hanyalah namanya serta fakta bahwa aku tidak berteman dekat dengannya,lalu bahwa ia adalah pemeluk agama Hindu dan berasal dari Bali, lalu aku juga ingat bahwa ia memiliki seorang adik. Tapi entah mengapa, pagi hari di taman kanak-kanak itu terus menjadi satu dari sedikit ingatan episodik yang mudah kuakses hingga sekarang walaupun tak tertampil secara gamblang.
Ada kebahagiaan yang subtle* namun berkesan.

Lalu hari ini aku bertanya-tanya. Layakkah ia disimpan?

*Aku kesulitan mencari padanan kata yang tepat dalam Bahasa Indonesia, bisa dibantu?

Yang Terus Berulang

If you repeated something over and over again it loses its meaning”,

ujar Phil Kaye dalam puisinya: Repetition.

Apakah hal itu benar-benar terjadi atau hanya omong kosong dari orang yang bosan saja?

Coba saja. Cobalah ucapkan kata favoritmu sebanyak dua puluh kali atau lebih dan rasakan apa yang terjadi. Saya akan menggunakan kata ‘langit’ sebagai contohnya.

Langit langit langit langit langit langit langit langit langit langit langit langit langit langit langit langit langit langit langit langit langit …

Cobalah rasakan sendiri. Di pengucapan kesekian kau pasti mulai merasa aneh. Mungkin bertanya, “Mengapa disebut langit ya?” atau “Mengapa kita mengucapkan langit?”, seakan ‘langit’ adalah sebuah kata yang asing, seakan ia terlepas dari makna yang kau ketahui selama ini. Sebuah kata yang kosong. Pada derajat tertentu, kekosongan makna itu akan membuatmu bingung atau bahkan menimbulkan kengerian tersendiri.

Fenomena tersebut ternyata sudah menjadi bahan kajian para peneliti sejak tahun 1960 dan pada tahun 1962, Leon Jakobovits mengemukakan frasa semantic satiation sebagai nama dari fenomena tersebut dalam disertasi doktornya di McGill University, Montreal, Canada. Semantic satiation itu sendiri didefinisikan sebagai pengalaman subyektif akan hilangnya makna kata sebagai hasil dari inspeksi (pemeriksaan) dan repetisi (pengulangan) kata itu secara berkepanjangan.

Salah satu penjelasan terhadap fenomena ini didasarkan pada pendekatan persepsi-Gestalt. Menurut pandangan tersebut, pengulangan pengucapan kata selalu diikuti dengan representasi yang dihubungkan dengan respon berupa identifikasi arti kata. Namun pada saat yang bersamaan, terjadi inhibisi (penghambatan) reaktif yang terus menurunkan intensitas respon terhadap pengucapan kata seiring dengan pengulangan yang terjadi. Hingga pada akhirnya, respon (yang bekerja untuk memaknai kata) pun terhenti pada jumlah pengulangan tertentu dan membuat seakan-akan kata tersebut kehilangan maknanya, meski hanya sementara.

Selain itu, ada pula penjelasan lain tentang fenomena ini dari sudut pandang neuropsikologi, walaupun tidak memiliki perbedaan yang signifikan. Jadi, pengulangan kata atau pengulangan verbal merangsang pola saraf spesifik dalam korteks yang berkorespondensi dengan arti kata. Pengulangan yang cepat membuat aktivitas sensorimotor feriferal dan aktivasi saraf pusat bekerja terus menerus tanpa henti lalu menyebabkan reaksi inhibisi yang mengurangi korespondesi tersebut setiap sebuah kata diucapkan berulang.

Sederhananya, kita bisa menganalogikan sistem saraf sebagai pelayan di sebuah restoran. Pengucapan kata adalah pesanan dari pelanggan dan pemaknaan kata adalah makanan yang dipesan. Bayangkan jika sang pelayan harus merespon pesanan secara berulang kali dalam waktu yang singkat, tentunya ia akan kewalahan lalu tak lagi mampu mengantarkan pesanan. Begitu juga otak kita. Selain itu, semantic satiation juga bisa dianalogikan  sebagai metode filter spam yang dimiliki oleh otak. Jika terlalu banyak pesan tak berguna masuk, maka secara otomatis akan dihalangi atau diteruskan ke tempat sampah.

Seperti kata yang lainnya, mungkin ‘cinta’ juga akan kehilangan maknanya jika terlalu sering diucapkan.

***

Referensi:

Lee Smith, Raymond Klein (1990). “Evidence for Semantic Satiation: Repeating a Category Slows Subsequent Semantic Processing”. Journal of Experimental Psychology: Learning, Memory, and Cognition. Diambil dari http://psy2.ucsd.edu/~dhuber/smith_klein_1990.pdf pada pukul 08.00, Kamis, 17 Oktober 2013.

Leon Jakobovits James (April 1962). “Effects of Repeated Stimulation on Cognitive Aspects of Behavior: Some Experiments on the Phenomenon of Semantic Satiation”. Diambil dari http://www.soc.hawaii.edu/leonj/499s2000/banaag/semantic-satiation.doc pada pukul 08.00, Kamis, 17 Oktober 2013.

Leon Jakobovits James (1967). “Semantic Satiation and Cognitive Dynamics”. Diambil  dari http://www.soc.hawaii.edu/leonj/499s99/yamauchi/semantic.htm#loss pada pukul 08.00, Kamis, 17 Oktober 2013.

Rean John Uehara. “Repeating A Word Many Times Loses Its Meaning”. Diambil  dari http://knowledgesalad.com/useful/repeating-a-word-loses-its-meaning/ pada pukul 08.00, Kamis, 17 Oktober 2013.

%d bloggers like this: