Operasionalisasi

by gumilangra

Operasionalisasi adalah proses menurunkan suatu konsep abstrak menjadi lebih konkret—bisa diukur dan diobservasi secara langsung. Proses yang cukup akrab di telinga penggiat riset psikologi seperti saya, dan memang pada umumnya diterapkan dalam konteks riset. Namun dalam aksi Gerakan UI Mengajar, saya menemukan bahwa proses tersebut dapat mengantarkan saya pada pembelajaran yang tak hanya berkesan, namun juga penting bagi saya.


How powerful would our world be if we had kids who were not afraid to take risks, who were not afraid to think, and who had a champion? Every child deserves a champion, an adult who will never give up on them, who understands the power of connection, and insists that they become the best that they can possibly be.”

Pesan yang disampaikan oleh Rita Pierson di atas adalah inspirasi utama yang menyertai saya dalam proses menjadi pengajar. Dimulai sejak saya menjalani seleksi pengajar, melewati berbagai tahap persiapan praaksi, hingga sampailah pada pelaksanaan aksi mengajar di Sukabumi. Sebuah pesan yang menyatakan betapa pentingnya peran seorang pendidik untuk meyakinkan setiap anak didiknya bahwa mereka memiliki potensi yang besar, dan mendampingi anak-anak tersebut dalam usaha untuk mewujudkan kemungkinan terbaik yang ada di dalam dirinya. Mewujudkan anak-anak yang percaya diri dan berani menantang dunia, mengeksplorasi berbagai hal baru, serta menggantungkan mimpi setinggi-tingginya. Lalu poin terpentingnya, peran itu dapat terlaksana dengan baik hanya jika terdapat relasi positif yang signifikan antara pendidik dengan muridnya.

Yang menjadi tantangan bagi saya selaku pengajar adalah melakukan operasionalisasi konsep yang terkandung dalam pesan tersebut menjadi langkah-langkah konkret yang terencana dan tersusun dalam program pembelajaran. Lalu, tentu saja, mewujudkannya dalam tindakan nyata selama aksi pengajaran. Bukan hal yang mudah, mengingat pengajaran yang hanya berlangsung selama 3 minggu adalah waktu yang begitu singkat untuk bisa merangkai relasi yang signifikan di antara dua pihak yang baru saling mengenal. Tapi toh, saya tetap memberanikan diri untuk menjadikan poin-poin dalam pesan itu sebagai visi dan target yang ingin saya capai.

Untungnya, sejak awal pengajaran di kelas 6 SDN Puncakmanggu berjalan relatif lancar. Saya sangat dimudahkan oleh karakter umum murid yang cukup disiplin serta dapat menerima instruksi tanpa hambatan berarti. Setiap proses pengajaran terasa sangat menyenangkan, terlebih dengan adanya secercah semangat yang tampak jelas lewat respons para murid terhadap hal yang saya sampaikan di kelas, walaupun masih tertutup kabut kecanggungan dan rasa malu. Dalam kondisi seperti itu, saya menjalani rutinitas pengajar dengan suka cita. Mengajar dari pagi hingga tengah hari; mencatat hasil observasi yang selanjutnya menjadi catatan pribadi, ataupun dibawa ke dalam forum pengajar sebagai bahan diskusi evaluasi; serta melakukan kunjungan rumah murid sesekali. Ternyata, rutinitas saya sebagai pengajar tersebut mampu menjadi keping-keping puzzle yang menjembatani kondisi nyata di tempat saya mengajar dengan tujuan besar yang ingin saya capai. Kunjungan rumah, yang awalnya saya persepsikan sebagai kewajiban tambahan di samping mengajar pun secara tak terduga mampu menjadi penyumbang keping puzzle terbanyak.

Hal itu saya sadari ketika salah satu murid saya yang pemalu akhirnya memberanikan diri untuk memimpin sebuah permainan di kelas, setelah rumahnya saya kunjungi tepat sehari sebelumnya. Pada awalnya saya masih agak skeptis terhadap pengaruh langsung variabel kunjungan rumah tersebut terhadap meningkatnya keaktifan murid di kelas, apalagi di setiap kunjungan saya lebih banyak berinteraksi dengan orang tua atau wali murid dibandingkan dengan murid itu sendiri—para murid menjadi jauh lebih pemalu dan pendiam ketika sedang di rumah. Tindakan yang saya munculkan sebagai respons dari skeptisisme tersebut justru dengan lebih sering mengalokasikan waktu untuk berkunjung, sebab seperti dalam konteks ilmiah, semakin banyak bukti, maka semakin kuat pula kesimpulan yang bisa ditarik. Lagipula tidak ada salahnya juga untuk sering-sering berkunjung ke rumah murid. Kalaupun memang tidak bisa memberikan pengaruh langsung terhadap keaktifan murid di kelas, paling tidak saya dapat mengenal mereka lebih jauh, pikir saya.

Keingintahuan saya pun menggeser status kunjungan rumah yang awalnya merupakan kewajiban menjadi kebutuhan. Yang awalnya ‘tak apa dilakukan semampunya’, tak harus berkunjung ke rumah semua murid, terlebih mengingat jumlah murid saya cukup banyak yaitu 40 murid sementara saya hanya memiliki waktu kurang dari 3 minggu untuk mengunjungi mereka semua, berubah menjadi ‘harus bisa! Mereka berhak akan perlakuan yang sama!’. Lalu bersamaan dengan itu, saya mendapatkan akses terhadap pengalaman dan pengetahuan yang luar biasa berkesan. Saya merasakan berbagai perjalanan menantang menuju rumah murid. Ada rumah yang harus dicapai dengan melewati area hutan; ada yang mengharuskan saya melewati pematang sawah dan jalan berlumpur yang teramat sulit dilalui saat dan setelah hujan; ada pula yang awalnya terasa ringan karena melewati jalanan menurun, tapi baru terasa dahsyatnya ketika harus mendaki tajam dalam perjalanan pulang sementara matahari seakan memanggang. Saya pun memahami bahwa untuk sekadar hadir di kelas, murid-murid saya harus melalui kondisi semacam itu setiap harinya.

Saya juga berkesempatan untuk mengenal latar belakang, tantangan, dan kondisi setiap murid yang saya kunjungi rumahnya. Ada anak yang terpaksa dititipkan oleh ibunya kepada keluarga angkat sebab ibunya tak punya biaya, sedangkan ayahnya entah di mana; ada anak yang semangatnya membara, terpicu perjuangan ibunya, orang tua tunggal yang harus membanting tulang demi anak-anaknya; ada pula yang terus dilabel sebagai anak nakal oleh ibu tirinya; dan banyak lagi ragam kondisi lainnya. Sesuatu yang mungkin takkan pernah saya ketahui jika saya hanya menemui murid-murid saya di kelas saja.

Kunjungan rumah, yang awalnya saya prediksi berpengaruh pada perilaku murid-murid saya, ternyata justru memberikan pengaruh yang besar pada saya sendiri. Usaha untuk mencari tahu potensi dan keunggulan setiap murid saya yang awalnya hanya ditujukan sebagai laporan kepada orang tua dan tak jarang terkesan normatif, berubah menjadi keyakinan kuat bahwa memang setiap murid memiliki potensi yang unik. Pengetahuan yang saya dapatkan mengenai berbagai aspek kehidupan mereka membuat saya jauh lebih mampu menerima mereka sebagai manusia yang utuh. Manusia yang tak hanya dipersepsikan berdasarkan kemampuannya di kelas atau nilai rapornya, melainkan juga perlu dipahami kondisi, latar belakang, tantangan, serta harapan yang melekat pada dirinya.

DSC_2751

Dari kombinasi antara kunjungan rumah dan pembelajaran di sekolah, saya akhirnya menemukan jawaban tentang bagaimana membangun relasi yang signifikan dengan murid: mengawalinya dengan hal kecil berupa usaha tulus untuk mengenal mereka lebih jauh, menerima bahwa setiap dari mereka adalah individu yang unik dan utuh, dan tak pernah menyerah untuk mencari hal positif dari dalam diri mereka. Sebab, para murid dapat merasakan usaha dan ketulusan kita dan akan berespons terhadapnya. Berkembang sebagai kenyamanan dan kepercayaan. Semua itu akan berjalan dalam proses timbal balik yang mampu membangun relasi positif yang signifikan. Dengan relasi yang signifikan, niscaya pendidik mampu mewujudkan pembelajaran yang signifikan pula, sehingga mampu mengantarkan pada salah satu tujuan utama pendidikan: mewujudkan kemungkinan terbaik dari diri setiap individu terdidik. Pada akhirnya, patut diakui bahwa langkah-langkah konkret yang merupakan operasionalisasi dari konsep besar mengenai pendidikan yang ideal seringkali dimulai dari hal-hal sederhana. Sesederhana mencoba mengenal murid lebih dekat, sesederhana berkunjung ke rumahnya meski medannya berat.

Advertisements