Jaringan Kebaikan

by gumilangra

Salah satu dari sekian banyak hal yang saya syukuri dari kondisi tempat saya tinggal selama aksi Gerakan UI Mengajar adalah tersedianya sinyal yang relatif stabil—meski tak secepat di kota-kota besar. Seakan tersedia jembatan besar yang memberikan akses informasi dari dan ke dunia luar. Padahal secara fisik, bisa dibilang titik tempat saya ditempatkan termasuk titik yang paling menantang untuk dicapai, dengan jalanan berbatu, menanjak (sesekali juga diikuti turunan), dan tanpa penerangan di malam hari sebagai akses utama untuk sampai di sini.
Sebagai rasa syukur akan hal itu, saya pun berniat untuk memanfaatkan kemewahan tersebut seoptimal mungkin untuk membantu proses eksplorasi anak-anak yang saya ajar, membuka wawasan mereka dan mengalirkan manfaat yang sebesar-besarnya untuk mereka. Seiring proses eksplorasi yang saya pandu, mereka juga saya dorong untuk membangun dan mengembangkan gambaran mengenai cita-cita mereka. Untuk itu, penting bagi mereka untuk dapat mengidentifikasikan dirinya dengan orang lain yang memiliki cita dan asa yang kurang lebih sama dengannya. Salah satu langkah yang saya ambil adalah dengan mengajak orang-orang di sekitar saya untuk menuliskan cerita mengenai pengalaman dan atau cita-cita serta harapan mereka, dalam tema besar: keberanian untuk mengeksplor. Dengan begitu, saya berharap mereka dapat memiliki gambaran lebih jauh mengenai proses memperjuangkan cita-cita dan lebih luas mengenai dunia tempat kita tinggal.

image
Pesan ajakan yang saya sebarkan

Saya mulai mengumpulkan cerita tersebut dengan memanfaatkan jejaring sosial dalam ruang lingkup yang relatif sempit, yang menghubungkan saya dengan orang-orang yang sudah saya kenal sebelumnya. Selain itu, saya juga menyebarkan pesan ajakan tersebut di grup-grup yang berisi orang-orang terdekat saya. Ya, pada awalnya saya memang membatasi ajakan itu, dengan alasan yang sebenarnya cukup sederhana: saya tak bisa membayangkan nama saya bermunculan di grup-grup chat berisi orang yang tak saya kenal—berbeda dengan mereka yang suka menulis surat terbuka dan menyebarkannya di berbagai grup entah atas motif apa. Tetapi meski saya batasi, ternyata penyebarannya tak bisa terbendung, terlihat dari diteruskannya pesan saya di grup tempat saya bernaung justru oleh oleh rekan-rekan saya di sana yang tidak mendapatkannya langsung dari saya. Namun saya berpikir, toh bukan hal yang buruk juga jika ajakan saya menyebar dan mengundang kepedulian dari pembacanya untuk melibatkan diri dalam proyek ‘pembangunan mimpi’ ini. Sebuah niat baik yang diharapkan menuai respons baik pula.
Mendekati akhir minggu kedua pengajaran, surat masuk yang berisi cerita tak kunjung beranjak dari angka 2 dan saya pun mulai harap-harap cemas. “Mungkinkah ajakan saya kurang menarik? Atau mungkin memang tak banyak orang yang mau meluangkan waktunya untuk sekadar membagi ceritanya bagi kami?”, pikir saya pada saat itu. Sebelum pikiran negatif mulai menggangguku, ternyata sebagian tanyaku terjawab, tepatnya di akhir pekan minggu kedua tersebut. Sejumlah cerita yang dibungkus dalam surat elektronik berdatangan jauh lebih banyak dan dalam jeda waktu antarsurat yang singkat, jika dibandingkan dengan dua surat pertama. Hal yang paling menarik bagiku adalah: saya hampir belum mengenal pengirim cerita-cerita itu sebelumnya. It seems like looking at many random acts of kindness simultaneously—heartwarming, indeed. Saya begitu takjub melihat bukti-bukti empiris bahwa kebaikan tak memerlukan relasi yang sudah terjalin sebelumnya. Potensi kebaikan bisa terwujud dengan cara yang begitu sederhana, yaitu sesederhana membuka kesempatan, ruang, atau jaringan kepada orang lain untuk berbuat baik. Sesederhana mengajak pihak lain untuk ikut, sesederhana meminta tolong tanpa menuntut, lalu membiarkan kemanusiaan dengan segala kebaikannya membuatmu tak henti-hentinya terkejut.

image
Salah satu murid kelas Surasa yang memanfaatkan waktu istirahat untuk membaca cerita dari rekan-rekan

Terima kasih saya ucapkan dari hati terdalam bagi rekan-rekan yang telah menyisihkan tenaga yang tak lupa dibalut dengan cita serta asa, dan terwujud dalam cerita untuk anak-anak Surasa. Kini, cerita tersebut menjadi penghias kelas kami dan mungkin menjadi penghias mimpi kami pula.
Semoga kebaikan yang telah lakukan juga menyisakan rasa hangat di dada rekan-rekan semua, sebagaimana yang telah saya rasakan. Selamat menginspirasi, selamat mengejar mimpi.

Advertisements