Wonders are Waiting to Start

by gumilangra

Don’t lose your way, with each passing day

Jika menengok kembali ke belakang, bisa dibilang bahwa tak sedikit langkah yang telah dilalui untuk sampai di titik ini. Dimulai dari membangun keyakinan, hingga memberanikan diri dan mengambil keputusan untuk mencoba menjadi salah satu pengajar Gerakan UI Mengajar (GUIM). Satu per satu rangkaian seleksi pengajar kulalui, dengan serangkaian usaha pula untuk menampilkan kompetensi yang kumiliki sebaik mungkin. Akhirnya, kabar gembira di ujung masa seleksi pun tiba: saya dinyatakan terpilih sebagai salah satu dari 36 pengajar GUIM.
Namun itu pun, masih merupakan langkah awal dari perjuangan yang akan saya hadapi. Berbagai macam pelatihan dan pembekalan masih harus kami lalui untuk mengasah kemampuan, melatih kesiapan, serta memperluas wawasan. Pembelajaran, inspirasi, dan semangat timbul mewarnai perjalanan awal tersebut, namun di samping itu, kekhawatiran, rasa lelah, dan pikiran mengganggu lainnya turut mengikuti. Setumpuk tuntutan, baik yang hadir dalam diri maupun pihak eksternal seakan tak pernah berhenti menghampiri.

You’ve come so far, don’t throw it away

Bukannya mereda, emosi negatif justru semakin menjadi-jadi seiring dengan semakin dekatnya hari-H pelaksanaan aksi mengajar. Masalah-masalah personal sehari-hari bahkan sempat memberikan pengaruh yang lebih buruk dari seharusnya. Akibatnya, sejumlah pekerjaan yang harus selesai sebelum keberangkatan menjadi kurang dapat tertangani dengan baik—bahkan sebagian sempat terbengkalai selama berhari-hari. Tapi bukankah saya sudah melangkah begitu jauh untuk begitu saja menyerah pada tantangan yang ada?

Live believing, dreams are for weaving

Dengan memutuskan bahwa saya akan menjadi seorang pengajar, sudah seharusnya saya berjanji—paling tidak untuk diri sendiri—bahwa saya harus berjuang sekeras dan secerdas mungkin. Terlebih jika keputusan tersebut berlandaskan pada keyakinan bahwa setiap anak berhak atas pendidik yang tidak akan menyerah untuk mewujudkan segala kemungkinan terbaik yang ada pada diri anak didiknya. Bahwa setiap anak berhak atas kesempatan seluas-luasnya untuk dapat mengaktualisasikan dirinya. Sebuah keyakinan yang mungkin tampak sederhana, terlebih jika dibandingkan target-target untuk mengukir nilai sempurna pada ujian nasional, memenangkan olimpiade sains atau olimpiade olah raga dan seni tingkat nasional, atau bahkan internasional, dan sebagainya. Walau pada kenyataannya, justru jauh lebih banyak pendidik yang kesulitan untuk mewujudkan hak anak tersebut. Tapi, keyakinan itulah yang memberi arti pada langkah-langkah yang telah saya ambil dan menjadi alasan untuk berjuang di jalan ini.

Wonders are waiting to start

Kini, sepasang kaki saya telah menjejak lahan perjuangan. Bukan lagi saatnya untuk membiarkan kekhawatiran mengikis semangat. Bukan pula saatnya untuk menyerah pada rasa lelah. Sebab, masih ada senyum indah yang perlu dirangkai. Masih ada mimpi yang menunggu untuk diwujudkan. Masih ada pengalaman manis yang menunggu untuk dihayati dan dikenang bersama, dan kami akan berjuang demi itu semua.

image

Desa Balekambang, Kecamatan Kalibunder, Kabupaten Sukabumi
Sabtu, 10 Januari 2015

Advertisements