Kapan Kita Bicara Tentang Kemanusiaan?

by gumilangra

BsR4RojIMAAuxBW.jpg large(Gambar diambil dari sini)

 

BsLrCnWCQAASGOx.jpg medium(Gambar diambil dari sini)

 

BsVNey-IcAAVFce.jpg large(Gambar diambil dari sini)

 

Sejak isu penyerangan Gaza oleh milisi Israel mencuat di media-media informasi berbasis internet bulan Juni lalu, dan terus mewarnai berbagai jejaring sosial sepanjang Juliyang bertepatan dengan bulan Ramadhan, seruan dengan narasi seperti di atas rasanya menjadi hal yang tak asing lagi bagi pengguna jejaring sosial. Kabar terkini mengenai kondisi Gaza yang menjadi lahan konflikatau lebih tepat dapat disebut lahan penindasan (baca: Shepard, 2014; Wight, 2014)secara berkala disiarkan. Bersama dengan itu, seruan untuk peduli terhadap korban, khususnya dari pihak Palestina secara lantang disampaikan oleh rekan-rekan dari berbagai lokasi dan latar belakang.

Yang menurut saya cukup menarik adalah, munculnya narasi: “it’s not about religion, it’s about humanity” atau ungkapan-ungkapan senada, dan berdasarkan pengamatan pribadi saya, umumnya narasi semacam itu diserukan oleh umat muslim. Menarik, sebab saya sendiri hampir tak pernah mendengar ungkapan semacam itu diserukan oleh umat muslim sebelumnya. Biasanya kan, ungkapan itu cuma jadi seruan dari penggiat HAM yang tak jarang memang dibedakan dari umat muslim. Biasanya juga, yang menjadi dasar kepedulian umat muslim adalah ajaran tentang keterikatan antar penganut Islam, bersumber pada hadits yang mengumpamakan orang-orang mukmin sebagai satu tubuh. Yang ketika salah satu bagiannya sakit, maka panas demam atau ikut sakitlah sekujur tubuhnya. Pergeseran (atau variasi?) dalam narasi kepedulian inilah yang membuat saya tertarik untuk melihat tren ini secara lebih mendalam.

Ternyata, hal tersebut juga menarik bagi orang lain juga, dan akhirnya menuai beragam pandangan. Ada yang skeptis, dan menilai itu hanyalah tuntutan agar masyarakat secara umum peduli dan tak benar-benar dihayati oleh penyerunya sendiri. Seruan tentang kemanusiaan dianggap hanyalah hipokrisi dalam melakukan pembelaan atas golongannya. Lalu diikuti dengan argumen-argumen yang menggambarkan ketidakpedulian umat muslim Indonesia terhadap yang bukan golongannya. Saya sendiri, dan mungkin sebagian lainnya, memandang bahwa terangkatnya ungkapan tersebut sebagai awal yang baik, terlepas dari ketulusan penyerunya, yang kita semua takkan pernah ketahui secara pasti. Namun, bahwa gagasan tentang rasa kemanusiaan yang melampaui batas-batas yang selama ini mengotak-ngotakan manusia menjadi semakin diterimaatau paling tidak semakin sering diucap dan dikenaltentunya merupakan kabar baik. Bagi umat muslim sendiri, kritik tersebut dapat bersifat membangun jika memang diterima dengan bijak serta menjadi pengingat bahwa kepedulian mereka begitu diharapkan oleh golongan-golongan terdekat lainnya.

Saya tidak ingin menuntut setiap orang untuk peduli terhadap setiap orang yang membutuhkan kepedulian, sebab saya sendiri cukup mengerti bahwa selain hati nurani, dibutuhkan pula sumber daya mental untuk mengolah kepedulian. Tidak ada manusia yang cukup tangguh mampu membagi pikirannya untuk setiap masalah di dunia. Namun yang terpenting adalah tentang bagaimana kita menembus tembok-tembok tinggi yang mengotak-ngotakkan manusia begitu jauh. Membuat kita justru melupakan hal yang terpenting: bahwa kita terikat oleh satu persamaan sebagai manusia. Yang sepatutnya diikuti pula oleh satu rasa kemanusiaan yang melampaui ras, suku, warna kulit, agama, tempat asal, serta ideologi. Dan jika kemanusiaan tersinggung, semua orang yang berperasaan dan berfikiran waras tentu ikut tersinggung, terlepas dari segala atribut yang melekat pada dirinya, sebagaimana disampaikan Pram lewat buku Bumi Manusia. Bukankah sejarah sudah begitu banyak memberikan pelajaran, betapa perbedaan yang dilestarikan dengan bumbu kebencian hanya membawa kerusakan di dunia kecil kita ini?

Akhir kata, semoga kepedulian yang manusiawi ini mampu melewati tembok-tembok tinggi perbedaan yang memisahkan. Semoga kepedulian kita mampu menjadi solusi bagi saudara kita, warga Palestina maupun umat Syiah Sampang yang sama-sama terlantar di negaranya; masyarakat Suriah yang menjadi korban perang sipil; masyarakat Papua yang tak pernah sejahtera meski ‘dispesialkan’ oleh negara; petani yang tanahnya dirampas; dan minoritas yang terusir rumahnya dan dari negaranya. Semoga kita belajar menerima bahwa perbedaan adalah keniscayaan yang tak mungkin dimurnikan. Semoga setiap dari kita bisa mengambil peran, membawa dunia ini ke arah yang lebih baik.

Advertisements