Kebohongan dalam Hubungan Romantis

by gumilangra

Tak bisa dipungkiri bahwa kita semua menginginkan hubungan romantis yang tumbuh dari keterbukaan, keintiman, dan kepercayaan. Namun, kenyataannya tak selalu demikian. Sebagian besar individu (92%) mengaku telah berbohong pada pasangannya (Knox, Schacht, Holt, & Turner, 1993 dalam Cole, 2001). Saat tidak berbohong secara eksplisit kepada pasangan, banyak pula yang mengakui bahwa mereka sedang menyembunyikan informasi (Roloff & Clove, 1990 dalam Cole, 2001) atau mencoba menghindari pembahasan topik-topik tertentu dengan pasangannya secara keseluruhan (Baxter & Wilmot, 1985 dalam Cole, 2001).

Dalam hubungan romantis, ternyata ketidakjujuran dan kerahasiaan juga diperlukan sebagaimana kejujuran (Miller & Stiff, 1993; Solomon, 1993 dalam Cole, 2006). Bahkan hal tersebut dapat dilihat sebagai paradoks: seseorang akan semakin jujur sekaligus cenderung untuk berbohong pada orang-orang yang dicintai. Lalu, mengapa hal yang bertolak belakang tersebut dapat terjadi dalam sebuah hubungan?

Untuk mendapatkan manfaat dan kebaikan dari sebuah hubungan intim (misalnya dukungan fisik dan emosional), penting bagi kedua pihak untuk saling mengenal satu sama lain dengan baik. Tanpa keintiman dan pengetahuan bersama terkait karakteristik pasangan, manfaat tersebut tak mungkin didapatkan. Keintiman dibangun dari kebersamaan di mana pasangan menghabiskan waktu bersama, saling mengamati di berbagai situasi, dan saling terbuka satu sama lain (Cole & Teboul, 2004 dalam Cole 2006). Itulah mengapa keterbukaan dan kejujuran menjadi landasan penting dalam suatu hubungan. Terlebih lagi dengan adanya kebutuhan untuk dimengerti pada setiap individu yang terus tumbuh seiring dengan kedekatannya dengan individu lain (Reis & Shaver, 1988 dalam Cole, 2006).

Meskipun berkata jujur dan dimengerti menjadi faktor penting dalam hubungan romantis, kebohongan juga dibutuhkan, bahkan dalam kondisi terbaik selama hubungan tersebut (Miller & Stiff, 1993, Solomon, 1993 dalam Cole, 2006). Hubungan romantis pun memiliki dua aspek yang memicu dan “menyuburkan” kebohongan dan kerahasiaan: kesempatan yang berlimpah dan kebutuhan untuk itu.

Dalam sebuah hubungan, kita sering kali begitu mempercayai pasangan kita dan menganggap diri kita mengenalnya dengan baik, padahal kenyataannya tak selalu demikian (Miller & Stiff, 1992 dalam Cole, 2006). Akibatnya, sulit bagi individu untuk menyadari kebohongan pasangannya; meskipun sadar akan hal itu, sulit bagi individu untuk menerimanya (Cole, Leets, & Bradac, 2002 dalam Cole, 2006). Kondisi itulah yang membuat kesempatan untuk membohongi pasangan terbuka lebar.

Selain memberikan berbagai manfaat, sebuah hubungan juga dapat membuat individu terkekang dan merasa perlu untuk berbohong. Seiring dengan semakin dekatnya individu dengan pasangannya, berkata jujur menjadi sesuatu yang makin sulit dan pelik (Cole, 2005 dalam Cole, 2006). Pasangan cenderung terlalu menuntut, melit1, dan merespon dengan kurang baik saat kejujuran diungkapkan (Cole, 2001, Lippard, 1988 dalam Cole, 2006). Sehingga untuk menghindari perdebatan dan pertengkaran, kebohongan dianggap menjadi jalan keluar terbaik dalam menghadapi kekangan yang muncul di suatu hubungan.

Singkatnya, kontradiksi dalam sebuah hubungan—kejujuran dan kebohongan, manfaat dan kekangan—adalah kondisi yang tak bisa dihindari. Kita menaruh kepercayaan kepada seseorang yang paling mungkin membohongi kita, begitu juga sebaliknya. Namun, kombinasi seimbang dari aspek bertolak belakang itulah yang membuat suatu hubungan romatis berjalan baik. Lagi pula, sebagaimana diungkapkan oleh C. S. Lewis, “To love at all is to be vulnerable. Love anything and your heart will be wrung and possibly broken. If you wan to keep it intact, you must give it to no one, not evenan animal.

1.)     Melit: ingin mengetahui segala-galanya

Cole T. (2006). Intimacy, deception, truth, and lies: The paradox of being close. Entelechy: Mind and Culture, Spring/Summer,  No. 7 diunduh dari http://www.entelechyjournal.com/timcole.htm pada Kamis, 7 Maret 2013 pukul 10.00 WIB.

Cole T. (2001). Lying to the one you love: The use of deception on romantic relationships. Journal of Social and Personal Relationships, Vol. 18(1): 107-129 diunduh dari http://condor.depaul.edu/tcole/lying.pdf pada Kamis, 7 Maret 2013 pukul 10.00 WIB.

*Artikel ini juga dimuat dalam Bunch, Bulletin of Psychology (BEM IKM Fakultas Psikologi UI) edisi 4, April 2013
Advertisements