Perjalanan Hidup

by gumilangra

Seseorang pernah berkata pada saya, jika saya memang menentang dan berusaha menghindari sistem komando mutlak yang memiliki kecenderungan tinggi akan timbulnya destructive obedience, maka cepat atau lambat saya akan mulai mempertanyakan kebenaran dogma-dogma yang selama ini saya percaya–dalam agama. Pada saat itu, saya hanya mengiyakan perkataan tersebut karena saya pun juga sudah memperkirakan bahwa memang akan selalu ada kemungkinan untuk itu.

Mungkin, hari itu telah datang meski tanpa adanya kejadian dramatis yang membukanya. Saya pun sadar–dan mau menerima–bahwa saya perlu melihat dari kacamata yang benar-benar berbeda, yang mungkin bertentangan dengan pernyataan yang selama ini saya terima sebagai kebenaran. Namun saya sendiri berusaha untuk mengolah serta menanggapi informasi dari kacamata tersebut sebijaksana mungkin. Sehingga, tak serta merta beranjak dari satu landasan menuju landasan lain yang belum terkonstruk dengan kuat, melainkan terus membangun kedua landasan tersebut sedikit demi sedikit dan baru menentukan pilihan ketika keduanya sudah terkonstruk dengan kuat dan tak lagi bersifat parsial.

Belakangan ini, seringkali pikiran-pikiran tentang itu muncul begitu saja di benak saya, melintas ke sana ke mari, melompat-lompat. Saat berbagai lompatan pikiran tentang dogma bertemu dengan pikiran-pikiran tentang hidup dan perjalanan melaluinya, ada dua suasana yang langsung terbayang: lorong panjang yang lurus dan padang luas.

Aku membayangkan perjalanan hidup orang yang mematuhi dogma dengan tertib dan istiqomah sebagai perjalanan melewati lorong lurus itu. Lorong lurus yang harus ditempuh hingga sampai pada ujungnya. Tak perlu menoleh ke kanan ataupun ke kiri. Yang terpenting adalah berjalan dengan konsisten. Di ujungnya, dijanjikan berbagai keindahan serta kenikmatan abadi. Tapi sekali lagi, tak perlu tengok kanan-kiri. Jangan pula berbalik langkah dan kembali menjauh dari ujung jalan yang dijanjikan, terlebih memilih jalan-jalan lain. Jika begitu, kita tak hanya akan kehilangan kesempatan untuk memperoleh hadiah yang dijanjikan, melainkan juga akan mendapat hukuman. Bekal yang perlu kau siapkan untuk melewati lorong ini adalah konsistensi dan disiplin tinggi. Jika bekalmu tak cukup, sungguh perjalanan itu akan jadi sangat melelahkan.

Sedangkan perjalanan hidup orang yang terlepas–atau melepaskan diri dari–dogma layaknya perjalanan melewati padang yang luas. Di padang itu, kita bebas untuk melangkah ke manapun walau dengan tujuan yang sama: hadiah. Di berbagai sudut padang itu terdapat banyak petunjuk yang menjelaskan jalur-jalur untuk mencapai tujuan, tapi tak jarang petunjuk itu justru menyesatkan kita sebagai pengembara. Hal terbaik yang bisa dilakukan adalah menggunakan nalar atau akal budi yang kita miliki untuk mengolah informasi dari petunjuk-petunjuk tersebut. Yang perlu diperhatikan adalah, resiko bagi kita untuk berakhir di ujung jalan yang mengerikan atau hanya menghabiskan usia berputar-putar di jalur yang sama akan selalu ada. Dan memang butuh usaha yang lebih besar untuk mengolah informasi dibanding tunduk mengikuti petunjuk. Dengan kemungkinan itu bisa saja kita terlalu takut untuk sekadar mengambil langkah maju. Maka dari itu, perlu komposisi antara keberanian dan kebijaksanaan yang tepat untuk bisa melewati padang luas itu dengan selamat.

Masing-masing perjalanan memiliki karakteristik, kelebihan, dan resikonya masing-masing. Setiap orang–semoga saja–juga memiliki alasannya masing-masing untuk memilih berjalan di jalur yang dipilihnya. Alasan yang merupakan buah pikiran dan penalaran, yang membedakan manusia dan hewan.

Saya sendiri sedang berusaha melangkahkan kaki di padang rumput, mencoba membaca petunjuk-petunjuk yang ada sambil terus mengolah informasi darinya. Sedangkan anda, jalan mana yang anda pilih?

Advertisements