Sepotong Bulan

by gumilangra

“Beberapa hari yang lalu, aku dan rekan-rekan yang juga ditempatkan di titik ini turut serta dalam rapat warga desa. Mereka menyambut kami dengan baik. Bahkan, mereka menawarkan berbagai makanan ringan kepada kami dengan semangat. Salah satu yang masih kuingat namanya adalah Bagia, yang berbahan dasar sagu dengan tambahan kacang, lalu ada pula cemilan dari jagung. Keramahan warga di desa ini membuat kami makin bersemangat untuk merealisasikan rencana besar kami di sini

Seusai rapat dan mengurai pembicaraan singkat dengan beberapa warga, kami membubarkan diri lalu berjalan menuju rumah tempat masing-masing dari kami menumpang. Saat itu malam telah larut, namun bulan baru saja beranjak meninggalkan horizon. Ia membulat hampir sempurna, berbinar dengan cahaya jingga cerah. Jalan setapak dan pekarangan perlahan tersiram cahayanya seiring dengan pergerakan bulan mendekati zenith. Aku memutuskan untuk tak langsung pulang, melainkan menuju salah sudut desa yang berbatasan dengan padang rumput dan perdu. Di sana, bulan terlihat lebih jelas.

Bulan adalah salah satu objek yang selalu mengingatkanku padamu. Ya, kalian benar-benar mirip. Aku masih ingat saat pertama kali aku bertemu denganmu, kau bersinar terang oleh berbagai prestasi yang telah kau capai, namun tetap membalutnya dalam kesederhanaan. Menerangi tanpa menyilaukan. Seperti bulan.

Semakin aku mengenalmu, semakin dekat aku memandangmu, semakin aku sadar bahwa kau pun tak luput dari kekurangan. Tapi semua itu tak membuatmu ragu untuk terus maju dengan cahayamu, menuju titik tertinggi di langit dalam perjalanan revolusi yang seakan tanpa henti. Menerima bahwa diri tak sempurna. Mungkin menyimpan luka yang takkan hilang dengan seribu seka, namun terus berusaha membagi cahaya bagi dunia dengan ceria. Seperti bulan.

Kau juga tak pernah mengelak bahwa kau memiliki sisi gelap di balik segala keindahan yang tampil. Sisi gelap yang mampu menutupi, bahkan menelan cahaya yang biasa terpancar sepenuhnya dan menenggelamkanmu dalam kegelapan. Kau pernah meminta untuk membiarkanmu sendiri jika saat itu datang. Aku pun mengiyakan dan berkata bahwa aku akan terus menunggu hingga cahaya yang terpancar dari ceriamu kembali. Sebagaimana aku menanti bergantinya bulan baru.

 Ya, hingga kini aku masih mengagumimu sebagaimana aku mengagumi bulan.

Bersama dengan surat dan beberapa lembar foto ini, aku kirimkan pula setumpuk harapan dan doa agar kau senantiasa bersinar layaknya bulan purnama malam ini. Sampai jumpa. Aku berjanji untuk berada di sana saat kau mengenakan toga.”

Advertisements