Tentang Membaca, Tentang Memperkaya

by gumilangra

Bagi sebagian orang, membaca buku menjadi aktivitas yang melekat pada keseharian mereka dan mungkin sudah begitu banyak judul buku yang telah mereka santap. Namun tidak bagiku. Jika pada suatu saat aku ditanya mengenai buku ini atau itu, pemikiran serta kisah seorang tokoh yang tertuang dalam buku anu, atau tentang novel-novel terbaru, kemungkinan besar aku akan menjawab, “Kurang tahu” sebab aku memang begitu jarang membaca buku. Begitu sedikit ilmu, fakta, maupun cerita yang kutransfer dari teks di atas kertas ke dalam ruang penyimpanan di kepala ini, menurutku.

Kekurangaktifanku dalam membaca buku menurutku sangat berkorelasi dengan kesulitan yang kutemui saat membaca buku. Aku terbiasa dan lebih suka membaca artikel populer, cerita pendek, puisi, serta tulisan ringkas lainnya. Sedangkan untuk membaca buku yang lebih—tebal dan—berisi, hambatan-hambatan dalam membaca dan menyerap pengetahuan cenderung sering muncul. Mulai dari kesulitan untuk mempertahankan fokus, sehingga tak jarang konsentrasiku buyar dan tidak dapat memahami isi bacaan meski kedua mata masih bergerak untuk menginput penginderaan atas huruf-huruf yang menyampaikan makna.

Aku pun kurang cakap dalam mempertahankan ingatan jangka pendek atas informasi yang kubaca sehingga kadang lupa akan kalimat yang baru saja kubaca. Jika hal semacam itu terjadi, mau tak mau aku harus membaca ulang agar dapat benar-benar memahami isi bacaan. Sayangnya, pengulangan itu dapat membuatku bosan dan meruntuhkan konsistensi dalam menyelesaikan dan memahami intisari suatu buku.

Selain itu, ada karakteristik lain pada diriku yang cukup mengganggu proses membaca buku: sangat mudah mengantuk dan tertidur baik pada saat membaca maupun tidak. Pada kondisi normal, hanya butuh waktu beberapa menit sebelum aku mulai mengantuk dan menguap saat membaca buku. Kecuali bukunya cukup menarik, memang butuh usaha lebih untuk tetap terjaga. Terlebih lagi, aku kurang suka menahan kantuk; jika mengantuk, ya tidur. Jangankan pada saat membaca buku di waktu senggang, pada beberapa jam sebelum ujian akhir semester pun aku dapat dengan mudah tertidur saat membaca buku teks—di bilik membaca dalam perpustakaan.

Berdasarkan akal sehat, kekurangaktifanku dalam membaca tentu berkorelasi kuat dan positif dengan kesulitan yang kuhadapi dalam membaca sebagaimana telah aku ungkapkan sebelumnya. Entah variabel mana yang merupakan faktor dan variabel mana yang merupakan efek. Ada juga kemungkinan bahwa keduanya berkorelasi secara resiprokal. Tapi terlepas dari hal itu, sejak aku menempuh pendidikan di perguruan tinggi aku semakin sadar bahwa aku harus memperbanyak bacaanku dan menghadapi segala hambatan yang ada. Karena dengan membaca buku—di luar buku teks wajib kuliah, ada banyak manfaat yang bisa kudapatkan, bahkan dengan jumlah bacaanku yang sedemikian sedikit,

Manfaat yang saat ini paling kurasakan dari kegiatan membaca adalah secara tidak langsung melatih kemampuan berbahasa dengan memperkaya diksi serta kosa kata. Berdasar pada apa yang kubaca, aku mampu lebih luwes dalam menyusun serta mengolah tulisan. Tulisan yang kubaca juga seringkali memicu luapan gagasan. Membaca mampu mendorongku untuk menulis secara lebih aktif dan baik.

Dengan membaca buku, aku juga mampu melihat dunia secara lebih luas. Merasakan suasana di tempat yang tak pernah kupijak dan masa yang telah terlewatkan. Mengenal budaya dan manusia yang tak pernah kutemui sebelumnya. Dan melihat dari sudut pandang para pemikir-pemikir, mulai dari yang bijaksana, ortodoks, hingga yang radikal. Mengecap pengalaman-pengalaman yang abstrak yang mungkin tak terjangkau indera.

Lalu manfaat yang baru-baru ini kusadari pentingnya: melengkapi diri. Saat ini aku merasa bahwa aku adalah eksistensi yang berada pada tahap awal konstruksi. Oleh karenanya, aku ingin terus mengisi diri dengan pengetahuan dan pemikiran yang terus kupilah agar dapat menjalani hidup dalam arah yang tepat serta menjalankan fungsi diri dengan maksimalisasi potensi yang ada. Dengan membaca buku yang sesuai, aku seakan mendapat panduan untuk melengkapi diri layaknya pelajar yang dipandu oleh Newton melalui kalkulusnya; para Freudian yang dipandu melalui psikoanalisis Freud; atau umat muslim yang dipandu dengan Al-Quran dan Hadits.

Untuk memaksimalkan manfaat-manfaat tersebut, aku mengerucutkan topik buku bacaanku pada ranah psikologi, sejarah, petualangan aktual dan sastra-jurnalistik. Lalu tentu saja memasang target dan memaksa diri untuk membaca buku-buku tersebut. Namun meski dengan adanya sedikit pemaksaan, aku tak akan mengabaikan bahwa buku seharusnya dibaca untuk dihayati dan dinikmati.

Advertisements