Sarapan Pagi

by gumilangra

ants-on-cup-porcelain

(image source is here)

Tuan Pagi tak selalu datang beriringan dengan sebongkah energi baru dan kehangatan pada kapiler dalam wajahmu. Terkadang kau terpaksa meregulasi sumber daya yang tersisa sebisanya agar cukup untuk menggerakan otot hingga kau kembali bersandar pada sofa di penutupan senja. Tapi, seringkali kau pikir sumber dayamu tak cukup bahkan untuk mengangkat belikat dari sandarannya. Kau pun menggulung kaki pada perut, tak sembunyikan wajah cemberut. Tak bergerak. Menanti Tuan Pagi yang—sudah seharusnya kau mengerti bahwa—takkan muncul kurang dari 23 jam lagi. Sedih.

Tapi, kesedihan itu tak lebih dari sekedar secangkir coklat panas yang tak sempat kau reguk karena kau terlanjur tertidur dalam pertemuanmu dengan Nona Lailah. Sebab tubuhmu pun ingin otot dan uratnya yang lelah dipersilakan mengendur setelah seharian kau tarik ulur. Kini, coklat itu telah dingin, berkerut, dan tanpa izin dinikmati para semut. Namun kau harus ingat, kau selalu punya kesempatan untuk memilih. Apakah kau akan memasrahkan diri ‘tuk mereguknya bersama Tuan Pagi; atau meninggalkannya dan berlari mengejar Hari yang sudah berdiri di depan pintumu, menanti.

Dan jika pikiran dan pilihanmu masih belum menentu, tak perlu meragu. Segeralah menunggu.

Ada sarapan jika kau mau mencari.

Advertisements