Jangan Kungkung Hak dan Potensi Mereka

by gumilangra

D D D D D

Gambar di atas aku ambil dalam perjalanan pulang dari sebuah SMA Negeri di salah satu sudut Kabupaten Sukoharjo. Sekolah tersebut berada cukup jauh dari pusat kota–sebut saja alun-alun Satyanegara. Untuk mencapai sekolah itu, setahuku terdapat dua rute: melewati kawasan industri tekstil dan melewati kawasan pedesaan, yang kupilih sebagai rute alternatif untuk pulang. Sebenarnya tak ada yang spesial dari kedua rute tersebut, hanya saja aku lebih menyukai kenampakan alam yang kulihat saat melewati rute pedesaan. Meski ada sebagian jalannya yang berkolam-kolam–entah karena sengaja diatur sedemikian rupa agar lebih berestetika atau mungkin terkena debu-debu meteorit hingga muncul cekungan sedemikian besarnya–pada musim hujan seperti di awal tahun ini. Namun, aku tetap suka lewat rute itu. Lebih sepi dan minim polusi, meski kadang ada truk yang menghalangi. Tapi sebenarnya bukan hal terkait rute yang membuatku lebih memikirkan sekolah itu belakangan ini. Ini soal pihak yang berwenang di sana.

Pada suatu Selasa di bulan Januari, saya dan teman-teman dari Ikatan Keluarga Mahasiswa Sukoharjo (IKEMAS) UI berencana kembali melakukan sosialisasi penerimaan siswa baru dan kehidupan kampus di sekolah tersebut sesuai jadwal yang sudah disepakati. Di hari itu, kami berkesempatan untuk melakukan sosialisasi pada jam pelajaran pertama dan terakhir di dua kelas berbeda. Kami sampai di sana sekitar pukul 07.00. Siswa-siswi telah masuk ke kelasnya masing-masing. Sebelum kami menuju kelas sasaran sosialisasi, kami berniat untuk meminta izin kepada guru BK di ruangannya, namun ternyata ruangan tersebut masing kosong dan terkunci sehingga kami pun memutuskan untuk langsung menuju kelas. Kami cukup terkejut ketika mendapati seorang dengan jas sedang menjelaskan sesuatu di kelas tersebut. Mungkin dia juga sedang melakukan sosialisasi, pikirku. Untuk memastikan bahwa kami memang dijadwalkan untuk mengisi kelas itu, kami kembali ke ruang BK. Tapi ternyata ruangan tersebut masih kosong. Kami pun kembali ke kelas tersebut dan bertanya langsung pada bapak berjas itu. Dugaan kami benar. Ternyata ia juga sedang melakukan sosialisasi tentang kampusnya, sebuah perguruan tinggi swasta di Surakarta.

Merasa telah diberi kesempatan untuk melakukan sosialisasi, kami pun tetap masuk ke kelas tersebut dan menjelaskannya pada si bapak. Alhamdulillah, bapak itu berkenan untuk membagi kesempatan sosialisasi di jam pelajaran BK kelas itu dengan kami. Dalam waktu yang sangat terbatas, saya sangat puas dengan respon dari siswa-siswi kelas tersebut. Meski terlihat masih ragu-ragu, mereka antusias untuk tahu lebih dalam tentang seluk-beluk UI. Mungkin salah satu faktornya adalah keberhasilan seorang senior mereka untuk menembus jalur masuk UI tahun lalu, setelah sekian lama tak ada lulusan SMA tersebut yang berhasil diterima di UI. Semangat mereka tentunya membangkitkan optimisme saya terhadap lulusan SMA tersebut di tahun ini.

Berhubung guru yang akan mengisi kelas selanjutnya sudah datang, kami beranjak meninggalkan ruangan tanpa lupa mengucap terima kasih pada bapak guru dan para siswa. Untuk mengefektifkan waktu sambil menunggu jam pelajaran terakhir datang, kami kembali menuju ruang BK untuk memberikan laporan singkat terkait sosialisasi dan meminta klarifikasi atas kejadian pagi ini. Kebetulan ruang BK telah terbuka dan ada seorang guru BK di dalamnya. Namun belum sempat kami menjelaskan panjang lebar, beliau sudah berujar bahwa memang jadwal bagi kami untuk melakukan sosialisasi hari ini dan seterusnya diambil alih oleh perguruan tinggi swasta tersebut. Tanpa disertai alasan yang jelas. Tak perlu pikir panjang, saya pun menanyakan apakah ada kesempatan lain bagi kami. “Tidak ada.”, jawabnya. Beliau beralasan bahwa siswa-siswi sudah cukup sibuk dengan persiapan ujian yang mereka hadapi dalam waktu dekat. Melihat tak ada lagi kompromi yang bisa beliau berikan, dengan pasrah dan kecewa kami pun meninggalkan ruangan.

Ya, masalah yang sempat muncul tahun lalu kembali naik ke permukaan. Masalah yang berakar dari pesimisme pihak berwenang di sekolah terhadap siswa-siswinya sendiri. Tahun lalu kami cukup beruntung karena masih diberi kesempatan untuk melakukan sosialisasi di semua kelas XII, walaupun terasa bahwa kami kurang diterima. Dulu saya cukup memaklumi sikap pihak tersebut karena memang dalam beberapa tahun terakhir belum ada yang diterima sebagai mahasiswa UI. Dengan fakta bahwa salah satu siswi di sekolah itu berhasil diterima sebagai mahasiswa UI, saya berharap akan perubahan pola pikir pihak tersebut. Namun kenyataannya, pihak sekolah masih saja mengungkung sudut pandang siswa-siswinya hanya karena tak percaya terhadap potensi mereka. Pihak sekolah tersebut mungkin menganggap bahwa sosialisasi kami kurang berguna bagi siswa-siswinya karena menurut mereka siswa-siswinya tak akan mampu menembus seleksi masuk UI. Sehingga, mereka memutuskan untuk mengambil kesempatan bagi siswa-siswinya untuk mengenal UI secara lebih dalam.

Saya tidak berusaha mendiskreditkan perguruan tinggi swasta atau perguruan tinggi selain UI. Namun, alangkah baiknya jika pihak sekolah memberi kesempatan bagi siswa-siswinya untuk memandang dunia jauh lebih luas. Mengajari mereka bahwa mereka memiliki potensi untuk meraih pengalaman yang luar biasa di luar zona nyaman mereka pada saat ini. Saya pikir itu adalah salah satu tugas yang tak bisa diabaikan oleh para agen pendidikan. Tugas mereka bukan cuma mengajar agar nilai ujian siswa-siswi mereka baik lalu membanggakan sekolah, tapi lebih dari itu. Tugas mereka adalah membangun siswa-siswinya menjadi pribadi yang mampu mewujudkan potensi puncaknya. Jika pihak sekolah sudah memenuhi tugas tersebut, baru mereka bisa memberikan kebebasan pada siswa-siswinya: untuk keluar dari zona nyamannya dan berusaha meraih mimpi tertingginya; atau tetap bertahan dalam kenyamanan dan memendam potensinya.

Dalam situasi yang memprihatinkan ini, saya hanya berharap bahwa semua usaha kami mampu membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Tidak hanya bagi paguyuban mahasiswa kami, tapi juga bagi paguyuban dan lembaga lain di seluruh daerah di Indonesia yang peduli akan pendidikan di negara ini. Dan semoga hal seperti ini tak terulang lagi di lain waktu dan tempat. Karena…

Ensuring quality higher education is one of the most important things we can do for future generations.” -Ron Lewis

Advertisements