Panggung

by gumilangra

Aku kembali lagi melangkah ke panggung ini untuk kesekian kalinya. Kembali tak ada sepasang mata lain yang terjerat, mataku kembali dipeluk oleh sunyi dengan erat. Dan memang seharusnya begini karena terakhir kali kulihat, buku tamu masih belum terisi sama sekali.

Tanpa menanti menit berganti menit, melelehlah fragmen diri yang terbekukan. Perlahan. Dalam keheningan panggung, ia bergerak harmonis membentuk liukan demi liukan. Raga dan rasa berpacu dalam kombinasi presisi tanpa ada disonansi. Menampilkan ekspresi yang kabur oleh tekanan mahajana yang bertahta. Di ruang yang tak begitu luas ini, potongan-potongan kejujuran yang tersembunyi di panggung megah dunia mampu tampil dengan berani. Hanya di sini.

Hanya di sinilah rasa ditampilkan sebagaimana mestinya. Tak ada pretensi. Tak ada nurani yang dibohongi. Mungkin itulah mengapa aku rela meninggalkan panggung dunia untuk sementara untuk turut sekadar merayakan luapan rasa. Kembali menghidu sedikit aroma kebebasan setelah sekian lama terpapar tekanan tak beralasan. Dan pada puncaknya, menjadi ada sepenuhnya sebagai aku.

Namun, ada waktunya aku harus kembali. Menuju dunia di mana riuh rendah rasa dibungkam demi pemikiran yang berkuasa. Kembali mengenakan seragam kelaziman yang tak jarang mengungkung keberagaman. Meskipun begitu, aku yakin bahwa akan datang di mana panggung-panggung kecil semacam ini akan menelan besarnya panggung dunia. Tapi sebelum waktu itu datang, sudikah kau untuk bertandang dan mengisi buku tamu di dekat pintu masuk panggung ini?

Advertisements