Dalam Ribaanmu

by gumilangra

Aku ingin pulang menuju ribaanmu, sayang

Menyusuri punggungmu yang kukuh menopang

setiap asa sebelum mereka berangsur luruh

Memandangi lekuk-lekuk tubuhmu yang menyimpan misteri di setiap sisi

Lalu meninggalkan setumpuk materi yang menarik urat-urat leherku menjauhi kaki dalam sebuah kotak besi

karena disandingkan denganmu, sungguh mereka adalah ketiadaan arti

Aku ingin pulang

bukan untuk menantang

Lihatlah, ku berserah atas diri yang terlampau lelah

dan terlalu lemah sekadar untuk menahan amarah

Maka izinkan aku meringkuk dalam pelukanmu. Takluk

Berselimut nafasmu yang berhembus sejuk

mengisi rongga-rongga hampa di antara rusuk

dalam naungan gelap bertahtakan gemerlap

Dan dalam penjagaanmu, kau persilakan aku terlelap

Namun aku menolak. Enggan melewatkan rangkaian keindahan yang tersaji meski hanya sekejap

Sudah cukup sering kudengar kisah tentangmu dari orang-orang

Dalam ribaanmu kini, ku mau kamu yang melepasnya

lalu aku akan terjaga dan meraba

hingga fajar menjelang

*Saya sempat memutuskan untuk tidak melanjutkan tulisan ini, karena setelah saya baca kembali, ternyata terdapat beberapa diksi yang sama dengan puisi berjudul Mandalawangi-Pangrango karya Soe Hok Gie. Tetapi, saya akhirnya memutuskan untuk menyelesaikannya. Bukan karena memutuskan untuk tidak peduli terhadap eksistensi puisi yang agak sedikit mirip dan sudah ada lebih dulu, tetapi karena saya yakin pada diri sendiri bahwa saya tidak menirunya. Lagipula, tulisan ini adalah ungkapan perasaan pribadi saya dan bukan hal yang tak mungkin jika orang sebelum saya merasakan hal yang sama serta mengungkapkannya dalam wujud yang hampir serupa.

Advertisements