Udah Biasa, Kok

by gumilangra

Koridor dan jalan setapak berangsur-angsur sepi sore itu. Aku yang sudah mengikat sepatu tak langsung beranjak dari sisi belakang mushola baru. Hanya duduk terpaku dan membiarkan elemen waktu berlalu. Mempersilakan udara bergerak dan menyampaikan pesan dalam bahasanya pada permukaan kulitku. Namun tak kubalas dengan kata. Hanya dengan senyum yang mungkin tak mampu mereka artikan sebagaimana aku yang tak mengerti isi pesan yang mereka sampaikan. Tapi siapa peduli? Terkadang memang ada hal yang tak perlu dimengerti. Cukup dinikmati.
Daun-daun tak lelah berdansa dengan angin dalam irama yang harmonis. Larut dalam gerak dengan tempo yang berakselerasi seiring transisi dari siang ke malam. Di waktu yang sama, dimensi abstrak dalam otak bercerita. Tentang masa yang telah berlalu. Juga tentang rencana dan angan untuk masa depan. Kudengarkan dengan seksama sambil sesekali berkomentar dan memberi masukkan. Menikmati setiap detik yang berjalan dalam permainan pikiran.
Dari kejauhan, sesosok wajah yang kukenal tampak berjalan di sepanjang koridor. Lalu berbelok menuju mushola. Dia semakin dekat. Aku hanya terdiam. Ia pun sampai dan langsung duduk di sampingku. Sambil melepas sepatunya, ia berkata,“Sendirian aja?”

 

 

 

Advertisements