Hikmah dan Senyum Bahagia itu…

by gumilangra

…bisa datang dari manapun dan kapanpun, meski tanpa kita duga. Termasuk dari hal sederhana seperti pesan singkat.

Minggu, 16 September 2012
I
Sebuah pesan singkat kuterima di awal hari itu. Si pengirim yang merupakan juniorku semasa SMA itu saat ini telah menjadi mahasiswa baru UI. Seperti mahasiswa baru UI yang lain, ia mendapatkan tugas Orientasi Kehidupan Kampus (OKK) berupa kewajiban untuk menyusun PKM. Melalui teks yang sering disingkat, ia menuturkan bahwa ia mengangkat tema “pendidikan karakter anak melalui permainan” untuk PKM yang ia–dan rekan setimnya–susun dan mereka membutuhkan rekan dengan latar belakang pendidikan psikologi untuk ikut menyusunnya. Berbekal penuturan itu, ia mengajakku untuk bergabung dengan tim PKM-nya. Meski cukup tertarik dengan tema yang mereka angkat, aku masih berpikir panjang untuk menerima ajakannya. Mengingat tuntutan ‘perjuangan’ akademis di semester ganjil yang cukup besar dan aku juga masih memikul tanggung jawab di beberapa organisasi dan kepanitiaan. Terlebih lagi, aku merasa bahwa kompetensiku sebagai mahasiswa psikologi belum cukup memadai untuk mengaplikasikan pengetahuan terkait psikologi. Akhirnya kuputuskan untuk menolak ajakan tersebut. Tetapi sebelumnya, aku menanyakan dari mana ia mendapatkan nomor teleponku. Ia menjawab bahwa ia mendapatkannya dari temannya–yang juga mahasiswa baru UI–yang berasal dari SMA lain di Sukoharjo. Ia juga berkata bahwa temannya mendapatkan nomor teleponku saat aku mendatangi SMA-nya untuk mengadakan sosialisasi tentang UI dan masih disimpan hingga saat ini.
Seketika, ingatan tentang momen sosialisasi UI di semester lalu kembali berputar di memori aktifku. Aku masih ingat betul bagaimana aku dan rekan-tekan mahasiswa UI lain membagi pengalaman selama berjuang untuk masuk serta kehidupan di UI. Aku pun masih ingat berapa antusiasnya siswa-siswa di SMA itu saat mendengarkan dan bertanya pada kami yang hadir di hadapan mereka saat itu. Namun dibalik antusiasme mereka, terungkap adanya kekhawatiran dan sedikit pesimisme. Mulai dari stereotip mereka tentang kehidupan di kota besar, kekhawatiran akan pembiayaan selama berkuliah, hingga kenyataan bahwa dalam beberapa tahun terakhir belum ada senior mereka yang berhasil menembus seleksi masuk UI. Hal-hal itulah yang membuat mereka agak gentar untuk memperjuangkan kesempatan masuk ke UI. Dengan senyum dan pemaparan yang berapi-api, kami tetap mendorong mereka untuk tetap bersemangat dan optimis. Sekarang, setelah menerima kabar bahwa salah satu siswa SMA itu berhasil menyusul kami ke kampus kuning ini–dan ternyata masih menyimpan nomor teleponku, rasa bahagia, syukur dan bangga bercampur menggoreskan kurva senyumku. Sungguh besar karunia-Nya bagi hamba-Nya yang percaya dan terus berusaha.

“Selamat berjuang di kampus perjuangan, rekan tercinta! Mari wujudkan cita melalui karya! Maaf, karena saya belum mampu turut membantu banyak hingga jangka waktu yang aku pun tak tahu. Semoga rahmat dan karunia-Nya selalu menyertaimu.”

II
Malam telah begitu dekat dengan pertengahannya ketika pesan singkat lain menghampiri ponselku. Nama seorang teman di Fakultas Psikologi tertera sebagai pengirimnya. Dalam pesannya, ia menyampaikan bahwa ada hal yang ingin ia jelaskan secara langsung dalam sebuah pertemuan. Namun di sisi lain, ia ingin menjelaskannya sesegera mungkin. Lalu, melalui kumpulan pesan selanjutnya ia mulai memaparkan sebuah cerita. Kemarin, ia mengikuti seminar tentang PKM. Mirisnya, hanya sedikit yang ikut dan tertarik untuk mengikuti seminar tersebut. Perasaannya tak menentu saat ia beranjak dari seminar sambil terus memikirkan kondisi UI dalam ajang penyusunan PKM. Sedih, ragu, dan perasaan kurang nyaman lainnya. Meskipun begitu, ia tak ingin tinggal diam. Ia ingin turut serta untuk menyusun PKM dengan membawa nama UI. Untuk tahun ini memang hampir tak mungkin, pikirnya. Tetapi ia ingin menyusun PKM yang dapat ia ajukan tahun depan dan ingin memulai usahanya sesegera mungkin agar memiliki konsep dan persiapan yang matang. Untuk itu, ia kini mencari rekan yang memiliki passion yang sama dengannya yaitu pengabdian masyarakat dan salah satu orang yang ingin ia ajak berpartisipasi adalah aku.

Setelah mengungkapkan rencananya, ia kembali membagi pengalamannya. Kali ini saat ia berkunjung ke sebuah perguruan tinggi negeri di Kota Bogor. Di sana, ia mendapati banyak sekali mahasiswa dan dosen yang masih sibuk mengurus penyusunan PKM mereka di hari Minggu sekalipun. Bahkan ada pula istilah “belum jadi mahasiswa kalau belum ke PIMNAS”. Kondisi tersebut begitu kontras jika dibandingkan dengan kampus di mana kami berjuang saat ini. Masih banyak mahasiswa, bahkan dosen yang sama sekali tak tahu mengenai PKM. Prestasi mahasiswa yang mewakili UI di PIMNAS pun tenggelam di antara prestasi mahasiswa dari perguruan tinggi lain. Hal itulah yang semakin membuat temanku terdorong untuk melakukan sesuatu. Tanpa perlu berharap jika PKM-nya akan didanai atau tidak. Ia hanya ingin melakukan sesuatu dan tak hanya berdiam diri. Keinginannya itulah yang mengetukku untuk turut melakukan sesuatu.

Saat menyelami ceritanya, aku teringat pada salah satu keinginanku di semester lalu: menyusun PKM-Kewirausahaan. Sebuah keinginan yang ternyata tersisihkan oleh kesibukanku di kampus dan kecintaanku pada olah raga atletik serta bidang pengabdian masyarakat. Sebuah keinginan yang semakin sulit untuk kutempatkan pada daftar prioritas utamaku seiring berjalannya waktu. Sehingga PKM pun menjadi hal yang kurang menarik minatku. Padahal, aku bisa turut melakukan sesuatu untuk UI sambil tetap menyelami passion-ku di bidang pengabdian masyarakat. Itulah yang selamaini kurang kusadari, sampai tiba saat di mana temanku datang dan mengetukku. Sehingga ruang bagi PKM dalam gagasan dan perasaan kembali terbuka. Membuatku kembali mensyukuri nikmat berupa teman yang mampu mengingatkan. Sedangkan sekarang adalah giliranku untuk menentukan, apakah aku mampu konsisten dengan apa yang ingin kami lakukan.

Untukmu teman, ada hal yang ingin kukatakan

“Ingat, saya tidak bercanda ketika saya berkata bahwa UI butuh lebih banyak orang sepertimu. Yuk, mari kita bersama melakukan sesuatu untuk kampus ini, agar tak sekadar menjadi mahasiswa yang hanya datang dan berlalu.” :)

Advertisements