Mengapa Aku Begini dan Begitu

by gumilangra

Setiap yang diadakan memiliki batas. Ya, semuanya memiliki batas. Kecuali Dia, Sang Pencipta semuanya beserta batasnya. Karena memang Dia tidak diadakan. Dia ada tanpa diadakan… Salah satu batas yang tampak jelas bagi kita adalah waktu. Adalah suatu keniscayaan bahwa suatu saat, dengan ujung waktu kita masing-masinglah kita akan bertemu.
Selanjutnya, penerimaan atas hakikat tersebut menjadi pengantar bagi jari-jariku untuk menari ke sana ke mari. Bergerak bebas beralaskan lembaran kertas, kadang hanya berhenti jika sudah kebas. Wujudkan halaman-halaman yang terus menutur dan mengulas, baik dengan jelas dan terstruktur atau berkabut kias. Karena aku percaya bahwa keping-keping aksara yang membentuk kata dan berkumpul menyampaikan makna adalah satu dari sedikit sekali manifestasi yang mampu bertahan beriringan dengan laju masa. Aku pun percaya,  ketika raga si pengembara menua atau bahkan hanya menyisakan nama, hanya kisah yang ia tuliskan dan perbuatannya yang terus diceriterakanlah yang membuatnya mampu menggerakan dan memberi manfaat bagi yang hidup orang-orang setelahnya. Lalu, inilah yang aku usahakan, membagi potongan pengalaman dan gagasan dalam ikhtisar, agar dapat digunakan khalayak sebagai sarana belajar. Menginvestasikan sedikit waktu yang kumiliki dengan mengharap aliran ganjaran—yang baik tentunya—yang tak terputus meski sisa waktuku telah pupus. Mengais sedikit butiran keabadian diantara segala fana.
Dalam usaha untuk belajar dari kehidupan, aku pun senantiasa memegang kesadaran atas keterbatasan yang niscaya. Sadar bahwa waktuku takkan cukup untuk menangkap sekian banyak makna jika belajar hanya dari fenomena di mana aku jadi pemeran utama. Lalu, aku meniru manusia terdahulu. Yang sadar akan adanya perbedaan mendasar antara manusia dan makhluk lainnya. Manusia mampu belajar dari pengalaman, bukan pengalaman sekadar—karena hewan pun mampu jika hanya begitu, tapi juga dari pengalaman manusia lain. Mulai dari manusia dalam jangkauan penglihatannya, dalam lingkarannya, hingga manusia yang berada jauh di ujung dunia atau di masa yang berbeda.
Dengan setumpuk pengalaman manusia lain yang diperas, akan diperoleh intisari makna yang jumlahnya nyaris tak terbatas—tergantung sejauh mana usaha kita. Dapat pula kita meminjam kaca mata manusia-manusia lain untuk melihat sudut-sudut berbeda yang sebelumnya tak tertangkap mata kita. Begitu juga dengan suara mereka, dapat kita dengar untuk sekadar menambah kosa kata atau pengetahuan tentang nada atau sebagai pemicu bagi kita untuk turut bersuara. Hal-hal semacam itu mereka dapatkan dari pengalaman mereka—dan pengalaman orang lain yang mereka peras. Dan seterusnya dan seterusnya hingga terbentuk jalinan pengetahuan masif, sebuah maha karya dari manusia yang lemah adanya—namun mampu menguasai dunia. Jalinan masif itulah yang membuat manusia terus berkembang menjadi jauh lebih baik dari leluhur mereka yang terkubur jauh di belakang. Dan itulah yang kini aku usahakan, memastikan bahwa aku terus tumbuh berkembang dengan menyuplai intisari makna ke dalam diri.
Jadi itulah yang membuatku begini dan begitu.

 

 

 

Advertisements