Melakukan Sesuatu

by gumilangra

We don’t see things as they are, we see them as we are.”- Anais Nin

Setelah sebelumnya berjanji pada diri sendiri untuk melakukan beberapa hal dalam waktu dekat, akhirnya pada hari Sabtu, 7 April 2012 aku akhirnya memutuskan untuk melakukan hal-hal tersebut. Pertama, berusaha untuk melihat hal yang biasa dari perspektif yang berbeda.  Lalu yang kedua adalah mencoba membayar kompensasi atas ketidakmampuan untuk menjawab sebuah pertanyaan sederhana, “Kalian tau ga sih gimana kondisi di radius seratus meter dari sini—kampus UI Depok?”. Mungkin terdengar agak berat, padahal untuk memenuhi janji tersebut aku hanya melakukan hal sederhana; berjalan kaki dari tempat tinggalku di Mekarjaya menuju kampus. Namun dalam kesederhanaan itulah aku menemukan banyak hal menarik.

Aku berangkat dari tempat tinggalku sekitar pukul 07.00, saat matahari belum sempat menyapu udara pagi kota Depok yang lembab dan dingin. Meski masih di awal perjalanan, aku sudah merasakan sesuatu yang berbeda. Banyak rumah yang terlihat asing sepanjang perjalanan, padahal hampir setiap hari aku melewati rumah-rumah itu dengan mengendarai sepeda motor. Hal tersebut mengingatkanku pada sebuah teori yang dipelajari di kelas Psikologi Umum II; selective attention theory, yang menyatakan bahwa individu memiliki kecenderungan untuk mengarahkan diri terhadap satu bagian dari suatu lingkungan dan tak menghiraukan bagian lainnya. Bisa dibilang bahwa ketika kita fokus untuk pada sesuatu di depan kita—saat kita mengejar suatu pencapaian misalnya, kita cenderung untuk mengabaikan lingkungan sekeliling kita. Padahal, mungkin saja banyak hal indah yang terus berada di sekeliling kita.

Saat berjalan kaki jugalah aku menyadari bahwa masih banyak jalan yang kurang friendly untuk perjalan kaki di sepanjang rute menuju kampus. Trotoar yang seharusnya tersedia di pinggir jalan, tak terlihat di beberapa jalan. Kalaupun ada, biasanya sudah tertutup gerobak atau tenda pedagang kaki lima.

Sepanjang perjalanan, sesekali aku berhenti untuk mengambil gambar.

Berbelok sedikit dari jalan utama dan… sekarang aku di mana?!

Mengintip

Rambu yang terpasang tak jauh dari tumpukan sampah

Menara mati

Surau di tengah hijau

Menyeberang

Jalan kecil yang masih terhubung dengan urat nadi kota Depok, Jalan Margonda

Menerima barang bekas

Pagar yang membatasi salah satu kawasan terluar kampus UI, ambruk

Ada yang tahu fungsi dari tempat/benda ini?

Entah kenapa tulisan ini  mampu membuatku tersenyum-senyum sendiri. Meski tak tahu pasti apa yang dimaksud si penulis.

Setelah melewati jalan kecil yang sejajar dengan rel kereta, aku pun sampai di gerbang masuk UI Pondok Cina. Di kampus, aku langsung menuju Masjid UI untuk membersihkan celanaku yang berlumur lumpur setelah melewati rute semi-offroad. Dilanjutkan dengan mengerjakan tugas UTS di Perpustakaan Pusat.

Setelah berjam-jam berkutat dengan aplikasi word-processing dan mempertimbangkan bahwa waktu operasional Perpustakaan Pusat pada hari itu akan segera selesai, aku memutuskan untuk pulang. ‘Lagu-lagu daerah pengusir pengunjung’* pun mulai diperdengarkan saat aku mengemasi barang bawaanku.

Karena agak malas untuk kembali melewati jalan kecil sejajar rel kereta yang becek, aku memilih untuk pulang lewat Jalan Margonda. Lagi-lagi aku mendapati trotoar yang digunakan untuk hal yang tak semestinya, mulai dari tenda pedagang kaki lima hingga perpanjangan dari show room mobil dan motor bekas.

Di turunan Jalan Ir. Juanda, aku berjalan di trotoar yang diapit oleh barisan pohon-pohon. Teduh dan menyenangkan.

Bahaya kebocoran gas

Tenda-tenda yang akan meramaikan pasar kaget Juanda besok

Pasang iklan gratis

Secret garden?

Sebenarnya aku juga mengambil gambar dari sebuah tempat tinggal—atau paling tidak, begitulah kelihatannya—di bawah sebuah jembatan di Jalan Ir. Juanda. Yang mungkin tak akan pernah kusadari keberadaannya jika aku tidak melewatinya dengan berjalan kaki. Tapi… gambar itu hilang entah ke mana. Hehehehe.

Sore itu, cuaca tak beda jauh dengan cuaca pagi hari saat aku berangkat, berawan dengan udara yang lembab. Matahari sedang beranjak menuju pangkuan horizon saat aku berjalan melewati tanah lapang di salah satu sisi Jl. Ir. Juanda. Dataran yang ditumbuhi rumput beserta belukar dan ilalang itu agak menjulang jika dibandingkan area di sekitarnya, sehingga aku lebih leluasa melihat pemandangan sekitar.

Gedung-gedung Kota Depok tampak dari kejauhan

Tak lama aku berada di tempat itu, awan yang jenuh menumpahkan titik-titik air. Setelah melihat sekeliling dan tak menemukan tempat berteduh dalam jangkauan mata, aku segera menuruni dataran itu dengan langkah yang terus dipercepat. Di saat yang bersamaan, frekuensi dan ukuran titik-titik air yang jatuh semakin besar. Di sebuah gedung yang berdampingan minimarket kulabuhkan tubuhku beserta benda-benda yang menempel padanya. Ternyata butuh waktu cukup lama bagi awan-awan di atas Depok untuk melepaskan kejenuhannya. Sehingga, aku dan beberapa orang lainnya terpaksa terus bertahan di selasar gedung yang panjangnya tak lebih dari dua meter. Senja telah menjelang saat hujan berhenti. Aku beranjak dari tempatku berteduh dan kembali menyusuri jalan menuju tempat tinggalku.

Dari perjalanan hari itu, aku belajar bahwa meski butuh usaha lebih untuk mengubah sudut pandang, namun hal itu akan membuat kita lebih terbuka akan hal-hal baru. Hal-hal yang mungkin terabaikan pada kondisi normal. Dengan sudut pandang yang baru, kita seakan memiliki mata yang mampu mengeksplor spektrum warna yang jauh lebih beragam. Atau seakan mampu melengkapi keping puzzle yang selama ini kita anggap tak pernah ada, padahal keping itu merupakan bagian dari gambar besar yang kita susun.

The most fatal illusion is the settled point of view. Since life is growth and motion, a fixed point kills anybody who has one.”-Brook Atkinson

Selain itu, aku juga mendapat gambaran tambahan tentang kondisi sebagian tempat di sekeliling tempatku menuntut ilmu. Yang kembali menyadarkan bahwa disaat ku bersandar nyaman di sebuah sofa dalam ruangan berpendingin udara, masih banyak orang yang berlalu lalang melewati jalan berbatu sekedar untuk memastikan ada makanan di rumah mereka atau bertahan di gubuk di bawah jembatan. Cara untuk membantu mereka? Tak perlu dijelaskan panjang lebar. Cukup lakukan hal yang mampu dilakukan untuk membantu mereka. Standarnya ada dalam diri masing-masing individu. :)

Advertisements