Mengapa Gerangan, Jalan?

by gumilangra

 

 

 

(image source is here)

 

Diiringi titik-titik air penghabisan hujan sore itu, aku tiba di kota perbatasan. Bayangan akan jalan di depan perlahan menumpuk jadi harapan atas terjawabnya sekian dari sekian pertanyaan.
Di suatu penggalan pagi di bentangan Margonda, mereka yang berlalu siratkan guratan sepi lewat matanya yang berkilau keperakan. Tak henti lari berdampingan dengan hiruk-pikuk, namun bersama dengan kesendirianlah mereka pada akhirnya meringkuk.
Saat menemani senja pulang di sepanjang Juanda, aku bertanya padanya. Mengapa yang demikian dan demikian harus terpelihara jika hanya menuntun pada sungkawa?
Di hari kesekian, aku berjalan di menyusur gang kecil sejajar sungai untuk mencapai Stasiun Manggarai. Lewati kerumunan bocah pinggiran yang sibuk dengan petasan dan mainan yang kuduga seharga tak sampai puluhribuan. Raut bahagia bersahutan di sela tawa kawan-kawan. Hal yang bagi mereka yang berlalu lalang di jalan begitu sulit untuk sekedar di munculkan.
Lalu di Jalan Akses UI aku menepi. Sejajarkan wajah dengan spion kendaraan. Dan bertanya. Akukah mereka?
Gelap. Sepekat bayangan permukaan situ saat warga kota terlelap.
Dan ketika kaki-kaki silih ganti memotong keramaian Margonda, muncul kembali sebuah tanya. Untuk apa menanti yang sedari mula tak pernah ada?

Depok, 11 Agustus 2012

Advertisements