Wau Terputus-putus

by gumilangra

Kamis, 1 Maret 2012, sekitar pukul 16.00 WIB

Berdasarkan jadwal kuliahku, seharusnya kelas Psikologi Umum yang telah selesai pada pukul 15.30 tadi adalah kelas terakhir yang perlu kuhadiri hari itu. Namun, karena di hari sebelumnya aku telah meninggalkan kelas Mata kuliah Pengembangan Kepribadian Seni Kaligrafi (MPKS Kaligrafi) untuk menghadiri sebuah acara semi talk show yang sangat menarik, aku harus “membayar kompensasi” dengan menghadiri kelas MPKS Kaligrafi yang dijadwalkan pada di hari lainnya—karena jika tidak, akan sulit meraih nilai A di kelas tersebut. Dan secara agak resmi, kelas tersebut menjadi kelas keempat yang kuhadiri pada hari itu.

Di pertemuan ketiga kelas MPKS kaligrafi tersebut, Pak Okeu Kurniawan S.T., M.T selaku dosen mentransfer ilmunya seputar sejarah serta tokoh-tokoh seniman kaligrafi (kaligrafer) yang tersohor. Karena karakter beliau yang menyenangkan dan cara penyampaiannya yang menarik, aku—dan mahasiswa lainnya, mungkin—tak bosan untuk terus memperhatikan setiap detail kuliahnya. Namun di pertengahan kuliah, rasa kantuk mulai menyerang. Aku yang cukup lelah karena telah berhadapan dengan tiga kuliah sebelumnya pun berkali-kali tertidur selama beberapa detik.

Pada saat riwayat Hamid Al Amidi, salah satu seniman kaligrafer dari Turki dijelaskan oleh dosen, aku masih belum berada dalam kesadaran penuh. Namun saat kisah hidup Hamid mendekati akhir, rasa kantukku perlahan menguap sehingga aku dapat lebih memperhatikan penjelasan dosen. Sang dosen bercerita bahwa di usia tuanya, Hamid mengidap penyakit. Meski beliau merupakan kaligrafer terkenal, pada saat itu beliau tidak memiliki uang untuk membiayai pengobatannya. Hal itu dikarenakan semasa hidupnya, beliau tidak suka mengomersialisasikan karya-karyanya. Karena beliau memiliki banyak murid dan kerabat, bantuan pun berdatangan dari berbagai penjuru, tetapi beliau menolak semua bantuan tersebut dengan halus.

Murid-murid serta kerabatnya pun menggunakan cara lain untuk memberi bantuan kepada Hamid, yaitu dengan meminta agar beliau membuat sebuah kaligrafi yang nantinya akan mereka beli. Ternyata beliau setuju dengan cara tersebut. Dengan bersusah payah—dalam kondisi sakit, akhirnya ia menyelesaikan sebuah kaligrafi.

HamidWaoBig

(image source is here)

Kaligrafi yang ia buat hanya terdiri dari satu huruf, yaitu huruf wau. Dan dilihat dari desainnya, kaligrafi tersebut agak berbeda dari kaligrafi pada umumnya dimana kaligrafi tersebut dituliskan dengan terputus-putus. Akan tetapi, dibalik kesederhanaan tampilan kaligrafi tersebut, tersimpan makna filosofis yang sangat mendalam.

Penulisan yang terputus-putus memiliki arti bahwa pembuatnya sedang berada dalam keadaan sulit atau sakit pada saat ia membuat kaligrafi tersebut. Sedangkan huruf wau dipilih karena dalam Bahasa Arab, wau berarti “dan”. Kata “dan” merupakan sebuah konjungsi atau kata penghubung dalam sebuah kalimat dan secara tak langsung menandakan bahwa kalimat itu belum berakhir. Hamid memilih huruf wau karena beliau tahu bahwa penyakit yang dideritanya bukanlah sesuatu yang akan membuat perjuangannya berakhir. Bahkan walaupun memang waktunya sudah tak lama lagi, beliau tetap yakin bahwa akan selalu ada orang yang meneruskan perjuangannya dalam bidang kaligrafi, baik dari kalangan muridnya ataupun bukan. Beliau meninggal pada 18 Mei 1982 di usia 91 tahun.

Setelah kembali merenungkan kisah hidup Hamid Al Hamid, aku sadar bahwa kegagalan atau sekedar penurunan performa akademik yang kualami bukanlah hal yang dapat menjadi penghalang bagiku untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Bahkan mungkin hal tersebut merupakan peringatan dan tanda cinta kasih dari-Nya bagiku yang terkadang lalai dan lupa, agar aku lebih memperhatikan keadaan di dalam diri maupun sekelilingku.

“Terima kasih ya Rabb atas segala hikmah yang kau tunjukkan padaku.”

Referensi:

http://www.islamkaligrafi.com/index.php?option=com_content&view=article&id=98:hamid-al-amidi&catid=20:tokoh&Itemid=70 diakses pada Minggu, 11 Maret 2011 pukul 15.48

Advertisements