Berobat Jalan

by gumilangra

Lagi-lagi terjadi. Entah sudah yang ke berapa kalinya penyakit lama itu kambuh.

Berawal dari ketidakmengertian terhadap sesuatu. Bukan sesuatu yang jauh atau berada di luar jangkauan, tetapi itu sangat dekat dan tak dapat dilepaskan dari eksistensi diri. Tapi tetap saja, terlalu sulit untuk dimengerti. Aku bahkan tak tahu apakah ia terlalu kompleks atau cukup sederhana. Aku ‘hanya’… sama sekali tidak mengenalnya. Dan hal ketidakmengertian itu mengganggu. Sangat.

Selanjutnya, ketidakmengertian itu membawaku pada hari-hari penuh kebingungan. Mengaburkan arah, alasan, dan tujuan. Hingga aku tak tahu apa yang sebaiknya dilakukan. Kebingungan melemahkan sistem imunku terhadap setiap stimulus perusak yang datang bertubi-tubi belakangan ini. Akhirnya, penyakit yang telah datang berkali-kali tak dapat dihindari.

Meski cepat atau lambat kondisiku akan membaik, penyakit itu akan terus menghantui jika tidak benar-benar diobati.

Aku ingin sembuh. Untuk dapat sembuh aku harus berobat. Di saat yang sama aku ingin terus melanjutkan hidup. Mungkin lebih baik aku berobat jalan.

Dan jika frase “berobat jalan” berarti berjuang untuk sembuh mencapai kondisi ideal dengan menghilangkan hal-hal buruk dan meningkatkan hal-hal baik hal-hal baik dalam diri, maka saat ini mungkin dapat dibilang aku sedang berobat jalan di Fakultas Psikologi ini, dengan bantuan orang-orang yang baik di sekelilingku yang terus memberikan obat berupa pemahaman, makna, dan cerita.

Advertisements