Sofisme dan Shaum

by gumilangra

Suatu hari di kelas mata kuliah Psikologi Umum, seorang dosen memberi kuliah tentang pemikiran-pemikiran kuno dalam perkembangan ilmu psikologi. Kuliah tersebut diawali dengan pemaparan tentang pemikiran-pemikiran kuno dari Cina, Mesir, dan wilayah ‘Timur’ lainnya yang dianggap berkontribusi dalam perkembangan ilmu psikologi kuno. Setelah itu, kuliah dilanjutkan dengan pemaparan tentang pemikiran-pemikiran psikologis dari Yunani kuno. Dengan lancar, dosen tersebut menjelaskan tentang pemikiran-pemikiran dari para filsuf Yunani kuno, seperti Thales, Anaximenes, Anaximander, Hippocrates, dan Socrates hingga sampailah pada pembahasan yang sangat menarik bagi penulis, yaitu tentang sophist (sofis). Dalam buku A History of Psychology, King dkk. menjelaskan bahwa sofis adalah

A type of teacher in ancient Greece. The sophist often emphasized relativism and how to live successfully. They often offered plausible but fallacious arguments. Hence, terms such as sophistry and sophistic refer to arguments that appear to be sound but are later found to be superficial or fallacious.” (2009, p. 68)

Sebenarnya, bukan penjelasan secara umum tentang sofis yang membuat penulis tertarik, tetapi justru contoh praktik sofisme dalam kehidupan sehari-hari yang dijelaskan sang dosenlah yang membuat penulis tertarik untuk mencari tahu jauh.

Sang dosen menjelaskan bahwa saat ini, banyak peneliti yang melakukan penelitian dengan tujuan untuk menghasilkan keuntungan bagi dirinya. Peneliti tersebut menghasilkan keuntungan dengan melakukan penelitian yang menghasilkan kesimpulan yang sesuai dengan keinginan atau dapat menyenangkan suatu golongan. Sehingga, peneliti tersebut mendapat imbalan dari golongan yang bersangkutan. Singkatnya, hasil penelitian mereka dapat diatur sesuai order siapapun yang mau membayar mereka.

Masih belum cukup konkret?

Tenang, sang dosen juga menyampaikan contoh yang lain.

Menurut sang dosen, salah satu penelitian sofistik adalah penelitian tentang puasa (karena puasa yang dimaksud sang dosen adalah puasa dalam agama Islam, maka saya akan menggantinya dengan shaum). Penelitian tersebut disebut sebagai salah satu penelitian sofistik karena di negara-negara dengan mayoritas penduduk muslim, penelitian tentang shaum cenderung menunjukkan bahwa shaum memberikan efek positif pada pelakunya, baik dalam aspek fisik maupun mental. Sedangkan di negara-negara barat, dimana penduduk muslim menjadi minoritas, penelitian tentang shaum justru menunjukkan hasil yang kontradiktif dengan penelitian di negara-negara dengan mayoritas penduduk muslim. Dan menurut sang dosen, hal tersebut menunjukkan bahwa penelitian tentang shaum dapat dimanipulasi oleh orang-orang yang memiliki pengaruh dominan, dan tentu saja… sofistik. Si penulis yang notabene seorang muslim tentu saja kurang setuju dengan sang dosen, tapi di sisi lain ia merasa ilmu yang ia miliki masih kurang, sehingga ia pun terdorong untuk mencari tahu tentang penelitian terhadap aktivitas shaum.

Berbekal perangkat komputer, koneksi internet, dan mesin pencari, ia pun berkelana mencari data yang ia perlukan. Setelah beberapa lama berhadapan dengan layar monitor, ia pun membaca beberapa artikel dan jurnal tentang puasa yang telah ia dapatkan. Salah satu jurnal menunjukkan bahwa shaum di bulan Ramadhan aman bagi individu yang sehat, namun bagi mereka yang mengidap berbagai penyakit, disarankan untuk berkonsultasi dahulu dengan dokter dan mengikuti rekomendasi ilmiah. Selain itu ada pula jurnal yang berisi tentang fenomena shaum Ramadhan di Mesir dimana banyak umat muslim yang berhura-hura di malam hari seusai menjalani ibadah shaum.

Namun diantara semua jurnal dan artikel tersebut, ada artikel yang menyadarkan penulis tentang suatu hal yang penting. Artikel tersebut berjudul “Ahmad Zainullah, Lulus Sebagai Doktor Puasa”. Dan berikut adalah sedikit kutipan dari artikel tersebut:

Puasa, apa manfaatnya? Kalau mengacu pada sebuah penelitian di Maroko, puasa justru membuat orang semakin konsumtif. Penelitian lain di negara Barat mengatakan, puasa bisa menimbulkan rasa tak nyaman bekerja. Bahkan bisa penyakit infeksi saluran pernapasan, gangguan muscular performance, dan gangguan kewaspadaan. Benarkah ini?

“Penelitian tersebut (menghasilkan kesimpulan demikian) karena salah memilih objek yang diteliti,” kata Dr dr Ahmad Zainullah, SpP.
Menurut dokter yang baru saja mendapat gelar doktor dengan disertasi tentang puasa ini, objek yang mereka teliti seharusnya Muslim yang beriman. Karena, Al-Qur`an dengan tegas menyatakan perintah puasa itu hanya untuk orang beriman.
“Kalau yang diteliti bukan orang-orang yang beriman atau mereka yang berpuasa tidak dilandasi oleh iman, maka hasilnya negatif,” jelas dokter ahli paru-paru ini.
Kasus di Maroko, menurut Zainullah, bisa menghasilkan kesimpulan seperti itu karena objek penelitiannya adalah ibu-ibu yang suka berbelanja di mall dan pasar. Sedang kasus yang diteliti di Barat mengambil objek orang-orang yang kelaparan. “Tentu saja hasilnya berbeda dengan penilitian saya. Penelitian saya justru menyimpulkan bahwa puasa itu meningkatkan imunitas (kekebalan tubuh),” katanya.

Ya. Ternyata jawaban atas rasa penasaran saya begitu sederhana. Mungkin banyak dari kita yang belum benar-benar merasakan manfaat dari shaum, atau bahkan kita justru mendapatkan efek negatif dari shaum. Jika hal itu memang terjadi, mengapa kita tidak menanyakan kepada diri kita sendiri, sudahkah kita melaksanakan ibadah shaum sesuai dengan apa yang dicontohkan Rasulullah dengan ikhlas?

Setelah saya membaca artikel di atas, menurut saya adalah hal yang kurang penting bagi umat muslim untuk memperdebatkan manfaat dari shaum. Yang lebih penting adalah mengetahui bagaimana caranya agar kita dapat menjalankannya sebagai salah satu rukun dari rukun Islam yang harus dilaksanakan sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah.

Dan beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam shaum:

“Wahai orang-orang yang beriman ! Diwajibkan kepada kamu puasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang yang sebelum kamu,supaya kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa.” (Q.S. Al-Baqarah:183)

Ayat tentang shaum itu dimulai dengan firman Allah: “Wahai orang-orang yang beriman” dan disudahi dengan:”Mudah-mudahan kamu menjadi orang yang bertaqwa”. Jadi, jelaslah bagi kita bahwa ibadah shaum Ramadhanharus didasari keimanan. Dan melalui ibadah tersebut kita diharapkan dapat menjadi orang yang bertaqwa dengan cara melatih kesabaran diri kita, menahan hawa nafsu kita dari makan dan minum, mencampuri isteri, menahan diri dari perkataan dan perbuatan yang sia-sia, seperti berkata bohong ,membuat fitnah dan tipu daya, merasa dengki dan khianat, memecah belah persatuan ummat, dan berbagai perbuatan jahat lainnya. 

Sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah S.A.W.:

“Bukanlah puasa itu hanya sekedar menghentikan makan dan minum tetapi puasa itu ialah menghentikan omong-omong kosong dan kata-kata kotor.” (H.R.Ibnu Khuzaimah)

Selain itu perlu diperhatikan bahwa kita dilarang untuk makan dan minum berlebih-lebihan, sebagaimana firman Allah berikut:

“Makan dan minumlah kamu dan janganlah berlebih-lebihan sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Q. S. Al-A’raf: 31)

Tubuh kita memerlukan makanan yang bergizi mengikut keperluan tubuh kita. Jika kita makan berlebih-lebihan sudah tentu ia akan membawa muzarat kepada kesehatan kita. Boleh menyebabkan badan menjadi gemuk, dengan mengakibatkan kepada sakit jantung, darah tinggi, penyakit kencing manis, dan berbagai penyakit lainnya. Oleh itu makanlah secara sederhana, terutama sekali ketika berbuka, mudah-mudahan Puasa dibulan Ramadhan akan membawa kesehatan bagi rohani dan jasmani kita.

Perlu dibaca:

Definisi Shaum

Referensi:

Ahmad Zainullah, Lulus Sebagai Doktor Puasa. Dari http://www.hidayatullah.com/read/2323/29/09/2005/ahmad-zainullah%2C-lulus-sebagai-doktor-puasa.html diakses pada Sabtu, 24 Desember 2011 pukul 11.00.

Alatas S. H. Hikmah Puasa Ramadhan. Dari http://www.shiar-islam.com/doc9.htm diakses pada Sabtu, 24 Desember 2011 pukul 14.00.

Azizi, Fereidoun. (Juni 2010). Islamic fasting and health. Annals of Nutrition & Metabolism 56. 4 : 273-82.

Horwitz, T. (29 April 1988). In egypt, islam’s holy month of fasting furns the night into frenzy of feasting. Wall Street Journal, p. 1.

King, D. Brett., Viney, Wayne., Woody, William. D. (Januari 2008). A History of Psychology: Ideas and Context. Fourth Edition. Allyn & Bacon, Inc.

Advertisements