Living Memoir

I am nothing else but that which I make of myself.

Sea and Hill

“I have thought it through and decided. I want to be the sea.”

“Why? I thought you like hills more. Or you just want to preserve your self-loathing by not being who you actually want to be, because it turned out that you enjoy your own self-loathing, no?”

He burst into laughter.

“No. It’s more about how I want you. So badly!”

“I’ll keep on trying to hug you. And I’ll do it by sending my waves every day and every night. And when the moon’s shining upon my face, I’ll try harder because I know you would see me from up there.”

“And as the days are getting warmer, I’ll be closer to you. I’ll drown coastal cities, force more than a billion people to evacuate, and cause huge economic losses just because I can.”

“Well, that’s creepy.”

“And I love it.”

Advertisements

Januari

20160116_185014

Januari di tahun ini adalah tentang menyambut setiap datangnya kesempatan, namun juga belajar memahami mana diantara mereka yang layak diprioritaskan dan mana yang meski dengan berat hati, harus ditinggalkan; tentang perjuangan mencari alasan untuk bertahan, meski untuk sekadar menyerah pun, tersedia begitu banyak pembenaran; dan tentang memegang pemahaman bahwa langkah baik baru takkan berarti jika toh akhirnya  ia luruh seiring berjalannya waktu.

*this post might be elaborated and extended before the end of January. Who knows if I would get more things to be learn and experienced?

Random Thought About Death

The idea of death might be the most, paradoxical idea regarding one’s life. We all know and understand that it would certainly come to end what’s so called life itself, but we could never actually know when it would come, or how it’s going to be. We also don’t know what every single us would feel or experience subjectively when the time comes. Simply because the dead doesn’t tell stories about what’s beyond the ending line of life.

image

Later, the uncertainty became significant source of anxiety. To cope with that, we assume that there’ll be another form of life ahead–afterlife–and develop the idea that we have the chance to prepare ourselves to face it. That it’s actually up to us, whether we want to work for a good afterlife, which usually called Heaven or a bad one called Hell.
Such idea eventually made me realize how selfish humans are. That–based on my experience–we mostly still think about ourselves even when we think about what’s-next-after-we-die. We rarely think about what should we leave for those who still continue to live. Even though they’re the ones who clearly (or empirically) will still experience the life: the happiness, the pain, the gratefulness, the sadness, the hardship, the struggle. Although I don’t think it’s purely people’s fault to think so, because mostly think that way because of the “you are on your own after you die” doctrine.

image

Then the question is, do you only live for yourself and to cope with your anxiety only, or you want to be the reasons that someone else in our world would experience a better life even after you die?

Operasionalisasi

Operasionalisasi adalah proses menurunkan suatu konsep abstrak menjadi lebih konkret—bisa diukur dan diobservasi secara langsung. Proses yang cukup akrab di telinga penggiat riset psikologi seperti saya, dan memang pada umumnya diterapkan dalam konteks riset. Namun dalam aksi Gerakan UI Mengajar, saya menemukan bahwa proses tersebut dapat mengantarkan saya pada pembelajaran yang tak hanya berkesan, namun juga penting bagi saya.


How powerful would our world be if we had kids who were not afraid to take risks, who were not afraid to think, and who had a champion? Every child deserves a champion, an adult who will never give up on them, who understands the power of connection, and insists that they become the best that they can possibly be.”

Pesan yang disampaikan oleh Rita Pierson di atas adalah inspirasi utama yang menyertai saya dalam proses menjadi pengajar. Dimulai sejak saya menjalani seleksi pengajar, melewati berbagai tahap persiapan praaksi, hingga sampailah pada pelaksanaan aksi mengajar di Sukabumi. Sebuah pesan yang menyatakan betapa pentingnya peran seorang pendidik untuk meyakinkan setiap anak didiknya bahwa mereka memiliki potensi yang besar, dan mendampingi anak-anak tersebut dalam usaha untuk mewujudkan kemungkinan terbaik yang ada di dalam dirinya. Mewujudkan anak-anak yang percaya diri dan berani menantang dunia, mengeksplorasi berbagai hal baru, serta menggantungkan mimpi setinggi-tingginya. Lalu poin terpentingnya, peran itu dapat terlaksana dengan baik hanya jika terdapat relasi positif yang signifikan antara pendidik dengan muridnya.

Yang menjadi tantangan bagi saya selaku pengajar adalah melakukan operasionalisasi konsep yang terkandung dalam pesan tersebut menjadi langkah-langkah konkret yang terencana dan tersusun dalam program pembelajaran. Lalu, tentu saja, mewujudkannya dalam tindakan nyata selama aksi pengajaran. Bukan hal yang mudah, mengingat pengajaran yang hanya berlangsung selama 3 minggu adalah waktu yang begitu singkat untuk bisa merangkai relasi yang signifikan di antara dua pihak yang baru saling mengenal. Tapi toh, saya tetap memberanikan diri untuk menjadikan poin-poin dalam pesan itu sebagai visi dan target yang ingin saya capai.

Untungnya, sejak awal pengajaran di kelas 6 SDN Puncakmanggu berjalan relatif lancar. Saya sangat dimudahkan oleh karakter umum murid yang cukup disiplin serta dapat menerima instruksi tanpa hambatan berarti. Setiap proses pengajaran terasa sangat menyenangkan, terlebih dengan adanya secercah semangat yang tampak jelas lewat respons para murid terhadap hal yang saya sampaikan di kelas, walaupun masih tertutup kabut kecanggungan dan rasa malu. Dalam kondisi seperti itu, saya menjalani rutinitas pengajar dengan suka cita. Mengajar dari pagi hingga tengah hari; mencatat hasil observasi yang selanjutnya menjadi catatan pribadi, ataupun dibawa ke dalam forum pengajar sebagai bahan diskusi evaluasi; serta melakukan kunjungan rumah murid sesekali. Ternyata, rutinitas saya sebagai pengajar tersebut mampu menjadi keping-keping puzzle yang menjembatani kondisi nyata di tempat saya mengajar dengan tujuan besar yang ingin saya capai. Kunjungan rumah, yang awalnya saya persepsikan sebagai kewajiban tambahan di samping mengajar pun secara tak terduga mampu menjadi penyumbang keping puzzle terbanyak.

Hal itu saya sadari ketika salah satu murid saya yang pemalu akhirnya memberanikan diri untuk memimpin sebuah permainan di kelas, setelah rumahnya saya kunjungi tepat sehari sebelumnya. Pada awalnya saya masih agak skeptis terhadap pengaruh langsung variabel kunjungan rumah tersebut terhadap meningkatnya keaktifan murid di kelas, apalagi di setiap kunjungan saya lebih banyak berinteraksi dengan orang tua atau wali murid dibandingkan dengan murid itu sendiri—para murid menjadi jauh lebih pemalu dan pendiam ketika sedang di rumah. Tindakan yang saya munculkan sebagai respons dari skeptisisme tersebut justru dengan lebih sering mengalokasikan waktu untuk berkunjung, sebab seperti dalam konteks ilmiah, semakin banyak bukti, maka semakin kuat pula kesimpulan yang bisa ditarik. Lagipula tidak ada salahnya juga untuk sering-sering berkunjung ke rumah murid. Kalaupun memang tidak bisa memberikan pengaruh langsung terhadap keaktifan murid di kelas, paling tidak saya dapat mengenal mereka lebih jauh, pikir saya.

Keingintahuan saya pun menggeser status kunjungan rumah yang awalnya merupakan kewajiban menjadi kebutuhan. Yang awalnya ‘tak apa dilakukan semampunya’, tak harus berkunjung ke rumah semua murid, terlebih mengingat jumlah murid saya cukup banyak yaitu 40 murid sementara saya hanya memiliki waktu kurang dari 3 minggu untuk mengunjungi mereka semua, berubah menjadi ‘harus bisa! Mereka berhak akan perlakuan yang sama!’. Lalu bersamaan dengan itu, saya mendapatkan akses terhadap pengalaman dan pengetahuan yang luar biasa berkesan. Saya merasakan berbagai perjalanan menantang menuju rumah murid. Ada rumah yang harus dicapai dengan melewati area hutan; ada yang mengharuskan saya melewati pematang sawah dan jalan berlumpur yang teramat sulit dilalui saat dan setelah hujan; ada pula yang awalnya terasa ringan karena melewati jalanan menurun, tapi baru terasa dahsyatnya ketika harus mendaki tajam dalam perjalanan pulang sementara matahari seakan memanggang. Saya pun memahami bahwa untuk sekadar hadir di kelas, murid-murid saya harus melalui kondisi semacam itu setiap harinya.

Saya juga berkesempatan untuk mengenal latar belakang, tantangan, dan kondisi setiap murid yang saya kunjungi rumahnya. Ada anak yang terpaksa dititipkan oleh ibunya kepada keluarga angkat sebab ibunya tak punya biaya, sedangkan ayahnya entah di mana; ada anak yang semangatnya membara, terpicu perjuangan ibunya, orang tua tunggal yang harus membanting tulang demi anak-anaknya; ada pula yang terus dilabel sebagai anak nakal oleh ibu tirinya; dan banyak lagi ragam kondisi lainnya. Sesuatu yang mungkin takkan pernah saya ketahui jika saya hanya menemui murid-murid saya di kelas saja.

Kunjungan rumah, yang awalnya saya prediksi berpengaruh pada perilaku murid-murid saya, ternyata justru memberikan pengaruh yang besar pada saya sendiri. Usaha untuk mencari tahu potensi dan keunggulan setiap murid saya yang awalnya hanya ditujukan sebagai laporan kepada orang tua dan tak jarang terkesan normatif, berubah menjadi keyakinan kuat bahwa memang setiap murid memiliki potensi yang unik. Pengetahuan yang saya dapatkan mengenai berbagai aspek kehidupan mereka membuat saya jauh lebih mampu menerima mereka sebagai manusia yang utuh. Manusia yang tak hanya dipersepsikan berdasarkan kemampuannya di kelas atau nilai rapornya, melainkan juga perlu dipahami kondisi, latar belakang, tantangan, serta harapan yang melekat pada dirinya.

DSC_2751

Dari kombinasi antara kunjungan rumah dan pembelajaran di sekolah, saya akhirnya menemukan jawaban tentang bagaimana membangun relasi yang signifikan dengan murid: mengawalinya dengan hal kecil berupa usaha tulus untuk mengenal mereka lebih jauh, menerima bahwa setiap dari mereka adalah individu yang unik dan utuh, dan tak pernah menyerah untuk mencari hal positif dari dalam diri mereka. Sebab, para murid dapat merasakan usaha dan ketulusan kita dan akan berespons terhadapnya. Berkembang sebagai kenyamanan dan kepercayaan. Semua itu akan berjalan dalam proses timbal balik yang mampu membangun relasi positif yang signifikan. Dengan relasi yang signifikan, niscaya pendidik mampu mewujudkan pembelajaran yang signifikan pula, sehingga mampu mengantarkan pada salah satu tujuan utama pendidikan: mewujudkan kemungkinan terbaik dari diri setiap individu terdidik. Pada akhirnya, patut diakui bahwa langkah-langkah konkret yang merupakan operasionalisasi dari konsep besar mengenai pendidikan yang ideal seringkali dimulai dari hal-hal sederhana. Sesederhana mencoba mengenal murid lebih dekat, sesederhana berkunjung ke rumahnya meski medannya berat.

Rutinitas

Tidak butuh waktu lama bagi saya untuk mulai merindukan ritme kehidupan serta atmosfer sosial di pedesaan sejak kami meninggalkan Desa Puncakmanggu, sekaligus mengakhiri periode aksi mengajar di sana. Rutinitas selama mengajar masih menyita ruang kognisi dan emosi saya meskipun sudah tak lagi saya jalani. Selama saya tinggal di sana, saya dan induk semang sekeluarga biasa menutup hari dengan makan malam bersama sebelum akhirnya saya kembali ke kamar dan mempersiapkan materi atau media pembelajaran untuk keesokan harinya, atau langsung memutuskan untuk tidur—atau berbaring sejenak sebelum kembali beraktivitas tapi akhirnya tertidur juga.

Ada kesederhanaan yang membahagiakan setiap kami makan bersama. Hidangan yang biasa tersaji memang seadanya: nasi hangat, ikan hasil tangkapan sendiri dari kolam, sambal, dan berbagai lalapan yang seringkali tampak seperti tanaman liar yang dipetik dari pinggir jalan. Tapi toh, saya tetap melahapnya dengan semangat—karena memang rasanya nikmat. Dua ronde makan jadi standar tersendiri setiap makan malam, hingga induk semang jadi khawatir kalau saya hanya makan sepiring saja. Jika perut kenyang, tidur nyenyak pun jadi gampang. Di daerah yang bersuhu relatif rendah seperti Desa Puncakmanggu, tidur malam menjadi salah satu ‘aktivitas’ paling menyenangkan, terlebih setelah melewati hari yang panjang dan melelahkan. Saya bisa membenamkan diri dalam dua lapis selimut dan terlelap dalam kelembutannya. Sesuatu yang sulit dilakukan di kota tempat saya tinggal sekarang tanpa membuat kasur basah oleh keringat keesokan paginya.

Ketika hari baru dimulai, saya segera bersiap untuk berangkat ke sekolah. Kadang saya juga menyempatkan untuk mempersiapkan materi atau media pembelajaran jika belum dapat saya selesaikan pada malam sebelumnya. Sebelum menuju sekolah, saya selalu mampir ke rumah panitia yang berada tepat di depan sekolah, baik untuk sekadar mengganti sandal jepit dengan sepatu pantofel, bercengkerama dengan sesama pengajar serta panitia, atau menumpang ikut sarapan. Begitu saya melewati gerbang sekolah, murid-murid dari kelas kecil langsung menghambur dan menyodorkan tangannya untuk bersalaman, sedangkan murid-murid dari kelas besar umumnya sudah sibuk di lapangan dengan permainan bola voli dan sepak takrawnya atau berkumpul di depan kelas mereka yang memang agak jauh dari gerbang sekolah. Ketika saya telah sampai di depan kelas, tak berbeda dengan murid-murid kelas kecil, murid-murid kelas 6 yang saya ajar pun langsung menghampiri untuk bersalaman lalu kembali melanjutkan aktivitas mereka hingga bel masuk berbunyi.

mengajar

Murid-murid itulah yang menjadi alasan saya untuk bangun setiap pagi, mempersiapkan media, materi, dan diri sebaik mungkin, lalu berangkat ke sekolah untuk mengajar. Mereka jugalah yang menjadi alasan bagi saya untuk menjalani rutinitas kunjungan rumah seusai proses pembelajaran di sekolah. Perjalanan melewati jalan naik-turun perbukitan untuk kunjungan rumah bertransformasi dari kewajiban mejadi kebutuhan seiring bertumbuhnya keinginan untuk memberikan yang terbaik untuk mereka. Jalan berbatu tak pernah dikeluhkan—bahkan patut disyukuri mengingat betapa licinnya jalanan tanpa batu ketika hujan turun dan betapa merepotkannya jika terjatuh di jalanan berlumpur, perjalanan jauh seakan jadi petualangan yang menyenangkan, dan rasa lelah menjadi pengingat bahwa itu semua adalah proses yang menguatkan.

Rutinitas itu saya jalani selama lebih dari tiga minggu dan selama itulah semangat saya tak kunjung padam. Saya sendiri pun sempat bertanya-tanya bagaimana bisa saya menjalani rutinitas tersebut dengan adem-ayem dan relatif berbahagia, padahal keterbatasan serta tuntutan terus menyertai. Saya yang pernah mengalami demotivasi ketika menjalani ritme aktivitas semacam itu—berada di tempat asing selama kurang lebih satu bulan—dapat membandingkannya dengan apa yang saya rasakan ketika semangat saya terasa hampir habis terbakar dan minat saya terhadap rutinitas yang saya jalani berkurang jauh. Sedangkan di sana, saya merasa bahwa setiap hari menawarkan pembelajaran tersendiri. Memberikan kesempatan untuk mencapai target yang dinamis, yang bisa terus disesuaikan, dikembangkan, dan ditingkatkan. Lalu yang pasti, saya tahu jelas untuk siapa saja saya berjuang di sana, proses seperti apa yang ingin saya jalani, hal apa saja yang ingin saya petik dari proses tersebut, serta kemungkinan apa saja yang ingin saya wujudkan. Akhirnya saya pun menyimpulkan bahwa kombinasi dari berbagai aspek itulah yang membuat saya mampu menjalani rutinitas selama mengajar di SDN Puncakmanggu dengan senang hati.

Di sisi lain, timbul pertanyaan lain: mengapa dalam konteks yang lebih umum rutinitas diidentikan dengan kebosanan dan stagnasi? Rutinitas seringkali disandingkan dengan ‘realita’, yang sama-sama harus dihadapi dengan berat hati setelah mengakhiri kegiatan ‘menyenangkan’ seperti mengajar di pedesaan selama kurang dari satu bulan. Rutinitas dianggap sebagai jalan panjang yang harus dilewati untuk mendapatkan kebahagiaan di ujungnya. Rutinitas dimaknai sebagai beban yang harus dilepaskan sesekali lewat cuti kerja dua minggu setahun sekali atau masa liburan yang didapatkan setelah semester perkuliahan berhasil diakhiri. Semua dilakukan agar pemikulnya tetap waras. Tapi bukankah apa yang saya jalani selama mengajar tak lain merupakan sebuah bentuk rutinitas? Apakah saya belum sampai pada titik jenuh dan stagnasi hanya karena saya belum menjalaninya dalam waktu yang cukup lama? Entahlah, saya sendiri belum memiliki jawaban pasti. Tetapi saya memiliki keyakinan bahwa kita cukup berdaya—atau paling tidak memiliki potensi untuk itu—untuk menjadikan setiap elemen dari rutinitas kita sesuatu yang bermakna dan menjadi sumber semangat untuk memulai hari hingga akhir hidup kita. Hal itu bisa dimulai dengan membangun kesadaran dari dalam diri mengenai untuk siapa saja kita berjuang, proses seperti apa yang ingin dijalani, hal apa saja yang ingin dipetik dari proses tersebut, dan kemungkinan apa saja yang ingin diwujudkan menjadi kenyataan. Maknai alasan dan tujuan hidupmu, lalu jadikan rutinitas sebagai bagian terbaik dalam hidup yang menjembatani keduanya. Sebab setiap dari kita berhak akan kehidupan yang lebih baik daripada kehidupan yang seakan terus menuntut kita untuk sejenak lari darinya.

After-Midnight Thought

The present world is complex and it keeps on growing to be more complex. Almost every aspect of our world develops that way: increasing biological complexity as the result of evolution; present’s more complex society than we had before, the tribes which consisted of dozens members thousands years ago now has grown into massive nation-states—which possibly turn into world’s single stateless society; economic development which turned simple barter-based economy into globalized finance; and digitization of massive amounts of information and development of smart systems that communicate interdependently.

As the world’s getting more complex, the problems around the world itself also seem to be more complex too. Besides all the civilization’s development we have, we still have neverending war, poverty and economic inequality, oppressions, drug crimes, environmental issues, hate crimes, and many others that could be an essay just by listing all of them. The perplexing nature of the problems seems to frustrate anyone who thinks about them. Caring about such issues is already overwhelming for some people, let alone thinking about the best solutions. But thanks to our empathic trait, we are hardly being able to not care.

Another problem arises when we can’t avoid to care about the issue, yet we’re too overwhelmed to try understanding it as a whole—and critically: we take mental shortcuts that often lead us to the wrong way. Instead of thinking clearly and identifying the root of the problem, people tend to just seek someone to blame. We blame other religious group for ours lack of development, blame immigrants for our country’s economic problems or infectious disease, blame the poor for simply being poor—which associated with being lazy—and being the burden for our country, and we’re satisfied as our government executed prisoners as if it would solve the actual problem. We don’t even bother to look at the context, at the bigger picture to understand what’s really happened.

Of course because it’s exhausting to put such effort on every problem we see. But, what upsets me the most is how people could easily say cruel things within their nescience. And it led me to realization on why being kind, saying kind things, is a valued quality. It’s because being kind is not only to avoid ourselves doing things that are basically evil, but also require ourselves to go against our inner prejudice, to look from varying perspective, and keep reevaluating what we want to express, and it’s not an easy things to do. In our crumbling world, I guess it’s worth the effort to take a break and give some time to listen until we find out what is the wisest action we can take. We might not solve the world’s problem, but at least we don’t make it worse. We can overcome our biases better. We can be kinder for anyone out there who needs our kindness. The question is, do we want to put the effort?

Jaringan Kebaikan

Salah satu dari sekian banyak hal yang saya syukuri dari kondisi tempat saya tinggal selama aksi Gerakan UI Mengajar adalah tersedianya sinyal yang relatif stabil—meski tak secepat di kota-kota besar. Seakan tersedia jembatan besar yang memberikan akses informasi dari dan ke dunia luar. Padahal secara fisik, bisa dibilang titik tempat saya ditempatkan termasuk titik yang paling menantang untuk dicapai, dengan jalanan berbatu, menanjak (sesekali juga diikuti turunan), dan tanpa penerangan di malam hari sebagai akses utama untuk sampai di sini.
Sebagai rasa syukur akan hal itu, saya pun berniat untuk memanfaatkan kemewahan tersebut seoptimal mungkin untuk membantu proses eksplorasi anak-anak yang saya ajar, membuka wawasan mereka dan mengalirkan manfaat yang sebesar-besarnya untuk mereka. Seiring proses eksplorasi yang saya pandu, mereka juga saya dorong untuk membangun dan mengembangkan gambaran mengenai cita-cita mereka. Untuk itu, penting bagi mereka untuk dapat mengidentifikasikan dirinya dengan orang lain yang memiliki cita dan asa yang kurang lebih sama dengannya. Salah satu langkah yang saya ambil adalah dengan mengajak orang-orang di sekitar saya untuk menuliskan cerita mengenai pengalaman dan atau cita-cita serta harapan mereka, dalam tema besar: keberanian untuk mengeksplor. Dengan begitu, saya berharap mereka dapat memiliki gambaran lebih jauh mengenai proses memperjuangkan cita-cita dan lebih luas mengenai dunia tempat kita tinggal.

image
Pesan ajakan yang saya sebarkan

Saya mulai mengumpulkan cerita tersebut dengan memanfaatkan jejaring sosial dalam ruang lingkup yang relatif sempit, yang menghubungkan saya dengan orang-orang yang sudah saya kenal sebelumnya. Selain itu, saya juga menyebarkan pesan ajakan tersebut di grup-grup yang berisi orang-orang terdekat saya. Ya, pada awalnya saya memang membatasi ajakan itu, dengan alasan yang sebenarnya cukup sederhana: saya tak bisa membayangkan nama saya bermunculan di grup-grup chat berisi orang yang tak saya kenal—berbeda dengan mereka yang suka menulis surat terbuka dan menyebarkannya di berbagai grup entah atas motif apa. Tetapi meski saya batasi, ternyata penyebarannya tak bisa terbendung, terlihat dari diteruskannya pesan saya di grup tempat saya bernaung justru oleh oleh rekan-rekan saya di sana yang tidak mendapatkannya langsung dari saya. Namun saya berpikir, toh bukan hal yang buruk juga jika ajakan saya menyebar dan mengundang kepedulian dari pembacanya untuk melibatkan diri dalam proyek ‘pembangunan mimpi’ ini. Sebuah niat baik yang diharapkan menuai respons baik pula.
Mendekati akhir minggu kedua pengajaran, surat masuk yang berisi cerita tak kunjung beranjak dari angka 2 dan saya pun mulai harap-harap cemas. “Mungkinkah ajakan saya kurang menarik? Atau mungkin memang tak banyak orang yang mau meluangkan waktunya untuk sekadar membagi ceritanya bagi kami?”, pikir saya pada saat itu. Sebelum pikiran negatif mulai menggangguku, ternyata sebagian tanyaku terjawab, tepatnya di akhir pekan minggu kedua tersebut. Sejumlah cerita yang dibungkus dalam surat elektronik berdatangan jauh lebih banyak dan dalam jeda waktu antarsurat yang singkat, jika dibandingkan dengan dua surat pertama. Hal yang paling menarik bagiku adalah: saya hampir belum mengenal pengirim cerita-cerita itu sebelumnya. It seems like looking at many random acts of kindness simultaneously—heartwarming, indeed. Saya begitu takjub melihat bukti-bukti empiris bahwa kebaikan tak memerlukan relasi yang sudah terjalin sebelumnya. Potensi kebaikan bisa terwujud dengan cara yang begitu sederhana, yaitu sesederhana membuka kesempatan, ruang, atau jaringan kepada orang lain untuk berbuat baik. Sesederhana mengajak pihak lain untuk ikut, sesederhana meminta tolong tanpa menuntut, lalu membiarkan kemanusiaan dengan segala kebaikannya membuatmu tak henti-hentinya terkejut.

image
Salah satu murid kelas Surasa yang memanfaatkan waktu istirahat untuk membaca cerita dari rekan-rekan

Terima kasih saya ucapkan dari hati terdalam bagi rekan-rekan yang telah menyisihkan tenaga yang tak lupa dibalut dengan cita serta asa, dan terwujud dalam cerita untuk anak-anak Surasa. Kini, cerita tersebut menjadi penghias kelas kami dan mungkin menjadi penghias mimpi kami pula.
Semoga kebaikan yang telah lakukan juga menyisakan rasa hangat di dada rekan-rekan semua, sebagaimana yang telah saya rasakan. Selamat menginspirasi, selamat mengejar mimpi.

Wonders are Waiting to Start

Don’t lose your way, with each passing day

Jika menengok kembali ke belakang, bisa dibilang bahwa tak sedikit langkah yang telah dilalui untuk sampai di titik ini. Dimulai dari membangun keyakinan, hingga memberanikan diri dan mengambil keputusan untuk mencoba menjadi salah satu pengajar Gerakan UI Mengajar (GUIM). Satu per satu rangkaian seleksi pengajar kulalui, dengan serangkaian usaha pula untuk menampilkan kompetensi yang kumiliki sebaik mungkin. Akhirnya, kabar gembira di ujung masa seleksi pun tiba: saya dinyatakan terpilih sebagai salah satu dari 36 pengajar GUIM.
Namun itu pun, masih merupakan langkah awal dari perjuangan yang akan saya hadapi. Berbagai macam pelatihan dan pembekalan masih harus kami lalui untuk mengasah kemampuan, melatih kesiapan, serta memperluas wawasan. Pembelajaran, inspirasi, dan semangat timbul mewarnai perjalanan awal tersebut, namun di samping itu, kekhawatiran, rasa lelah, dan pikiran mengganggu lainnya turut mengikuti. Setumpuk tuntutan, baik yang hadir dalam diri maupun pihak eksternal seakan tak pernah berhenti menghampiri.

You’ve come so far, don’t throw it away

Bukannya mereda, emosi negatif justru semakin menjadi-jadi seiring dengan semakin dekatnya hari-H pelaksanaan aksi mengajar. Masalah-masalah personal sehari-hari bahkan sempat memberikan pengaruh yang lebih buruk dari seharusnya. Akibatnya, sejumlah pekerjaan yang harus selesai sebelum keberangkatan menjadi kurang dapat tertangani dengan baik—bahkan sebagian sempat terbengkalai selama berhari-hari. Tapi bukankah saya sudah melangkah begitu jauh untuk begitu saja menyerah pada tantangan yang ada?

Live believing, dreams are for weaving

Dengan memutuskan bahwa saya akan menjadi seorang pengajar, sudah seharusnya saya berjanji—paling tidak untuk diri sendiri—bahwa saya harus berjuang sekeras dan secerdas mungkin. Terlebih jika keputusan tersebut berlandaskan pada keyakinan bahwa setiap anak berhak atas pendidik yang tidak akan menyerah untuk mewujudkan segala kemungkinan terbaik yang ada pada diri anak didiknya. Bahwa setiap anak berhak atas kesempatan seluas-luasnya untuk dapat mengaktualisasikan dirinya. Sebuah keyakinan yang mungkin tampak sederhana, terlebih jika dibandingkan target-target untuk mengukir nilai sempurna pada ujian nasional, memenangkan olimpiade sains atau olimpiade olah raga dan seni tingkat nasional, atau bahkan internasional, dan sebagainya. Walau pada kenyataannya, justru jauh lebih banyak pendidik yang kesulitan untuk mewujudkan hak anak tersebut. Tapi, keyakinan itulah yang memberi arti pada langkah-langkah yang telah saya ambil dan menjadi alasan untuk berjuang di jalan ini.

Wonders are waiting to start

Kini, sepasang kaki saya telah menjejak lahan perjuangan. Bukan lagi saatnya untuk membiarkan kekhawatiran mengikis semangat. Bukan pula saatnya untuk menyerah pada rasa lelah. Sebab, masih ada senyum indah yang perlu dirangkai. Masih ada mimpi yang menunggu untuk diwujudkan. Masih ada pengalaman manis yang menunggu untuk dihayati dan dikenang bersama, dan kami akan berjuang demi itu semua.

image

Desa Balekambang, Kecamatan Kalibunder, Kabupaten Sukabumi
Sabtu, 10 Januari 2015

Memantaskan Diri

Enam hari lagi, kami, tim pengajar serta panitia Gerakan UI Mengajar akan berangkat menuju enam titik aksi yang tersebar di Kecamatan Cimanggu, Jampang Kulon, dan Kalibunder, Kabupaten Sukabumi. Berbagai perasaan semakin intens dan campur aduk, seiring dengan semakin dekatnya hari-H tersebut. Kekhawatiran, semangat, harapan, syukur, ketegangan, dan rasa penasaran larut jadi satu, mengidentifikasi apa yang kurasa menjadi tantangan tersendiri belakangan ini.

66d2ab31e6075423eb891bb8b83be72fSebulan yang lalu, kami berjanji di depan orang-orang terkasih serta khalayalak lainnya. Untuk mengabdikan diri dengan setulus-tulusnya, memberikan hal terbaik yang bisa kami berikan. Hingga hari ini tiba, beragam pengalaman, pembelajaran, pandangan, dan gagasan, baik yang memang secara sengaja dipersiapkan untuk membekali kami maupun tidak, menjadi ramuan penting dalam proses refleksi atas langkah yang saya ambil. Proses yang pada akhirnya mengantarkan saya pada sebuah pertanyaan, “Seberapa pantas dan siapkah saya atas peran ini?”

Bahwa kedatangan kami yang tak genap sebulan bukan hanya tentang ketidakberesan dalam pelaksanaan pendidikan di negara ini dan kami sebagai intervensionis pada tataran implementasinya. Ini bukan hanya sekadar tentang mengajar dengan metode kreatif sebaik mungkin dalam konteks yang mengandung segala keterbatasan. Bukan pula membangun orientasi kekotaan yang dengan segala kemapanannya, belum tentu menawarkan solusi berdaya guna. Ini juga mengenai kami yang akan membagi sedikit perspektif kami, menampilkan sekelibat nilai yang kami pegang. Sudah seberapa pantas saya untuk itu? Ini juga mengenai kami yang harus menjadi lembaran yang mampu membuka diri atas berbagai pelajaran, menyerap berbagai kebijaksanaan. Sudah seberapa siap saya untuk itu?

Merupakan hal yang penting untuk membuka pikiran sebelum kita berharap bisa membuka pikiran orang lain atas perspektif baru. Untuk mencoba mengerti sebelum berharap bisa dimengerti. Saya percaya bahwa proses pembelajaran dan proses memantaskan diri adalah proses yang panjang dan berkesinambungan, dan itu harus dimulai dari diri kita masing-masing sebelum kita bergerak untuk orang lain.

Dormant

One might be anything

But one can’t be everything

One can live his life

But one can’t live too many life

Is one born, or become that way?

They said

You don’t have enough soul to live it all

We’ll show you which one’s the best

So you chose one

and put the others to sleep

There’s the story of a man

Who live as an actor

Walking as surrounded by concrete walls of routine

while drown within severe romantic insecurities

The path’s dried up foolish dreams

Which too slippery to walk years ago

He keep walking

Toward the light which has been waiting in the end of path

Dream of every man

They said

Don’t let yourself fall into your dreams

They said

He listened

Though he may not remember dreaming

Someone waits for him to wake again

%d bloggers like this: